Latest Movies

Today Best choice
check all movies now playing

Sunday, December 9, 2018

AS tak Lagi Gunakan Roket Rusia ke Antariksa

ilustrasi
SPACE TOURISM INDONESIA -- Peluncuran Expedition 58 Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tampaknya akan menjadi penerbangan terakhir astronaut AS dengan roket Soyuz milik Rusia dari Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan. AS telah berupaya kuat agar penerbangan astronaut bisa dilakukan di atas tanah mereka sendiri, bukan hanya untuk kebanggaan nasional, tetapi juga karena akan membawa peluang industri.

Hari ini, astronot NASA, Anne McClain, direncanakan akan berangkat untuk pertama kalinya ke luar angkasa menumpang kapal Soyuz seperti yang telah dilakukan setiap astronaut AS sejak 2011. Tetapi mulai awal tahun depan, astronaut AS akan naik ke atas kendaraan komersial yang diproduksi dan diluncurkan dari Amerika Serikat.

Peluncuran dari AS akan diuji pada 7 Januari 2019 mendatang dengan pesawat luar angkasa tak berawak SpaceX, Dragon, diluncurkan melalui roket Falcon 9 dari Florida, dekat Orlando. Area ini biasanya digunakan untuk peluncuran setiap misi ruang angkasa AS dengan astronaut, termasuk pesawat ulang alik dan misi bulan Apollo mulai tahun 1961. Selanjutnya, pesawat Boeing CST-100 Starliner juga akan menjalankan penerbangan pertama tanpa awak pada 2019.

Namun, kembalinya peluncuran dari AS tak hanya akan memberikan keuntungan bagi Boeing dan SpaceX, tetapi juga pemasok dan mitra yang membantu dua perusahaan AS ini untuk menerbangkan awak ke luar angkasa.

"Soyuz bukan satu-satunya alat di negara ini. Ini bukan satu-satunya sumber daya yang dapat kita sentuh. Seluruh upaya awak komersial Boeing-SpaceX benar-benar memberikan yang terbaik dari semua dunia, dari semua pilihan. Pilihan memberikan kreativitas dan manfaat dan potensi. Jadi itulah yang benar-benar menarik tentang ini," kata Cooper kepada Space.com, Senin (3/12).

Ini merupakan perjalanan panjang NASA yang mendorong program kru untuk segera diselesaikan, terlepas dari beberapa penundaan sejak program pesawat ulang-alik pensiun pada 2011. Itu terjadi tepat setelah pembangunan Stasiun Luar Angkasa Internasional selesai.

Sejak itu, NASA tidak bisa menerbangkan astronaut ke luar angkasa dari Amerika Serikat. Sebagai hasilnya, semua astronaut stasiun ruang angkasa harus terbang dari Baikonur, Kazakhstan dengan harga cukup mahal yakni mencapai US$70 juta atau sekitar Rp996 miliar per kursi.

Terbang kembali dari AS juga akan menghemat pembiayaan penerbangan awak ke luar angkasa. Sebelumnya, pesawat luar angkasa Soyuz Rusia dan roket Soyuz masing-masing memiliki performa yang baik. Sistemnya memiliki kemampuan untuk diluncurkan di hampir semua cuaca, berbeda dengan pesawat luar angkasa lain.

Dalam delapan tahun terakhir, penerbangan Soyuz yang dibatalkan hanya pada Oktober tahun ini ketika dua anggota awak kapal Ekspedisi 57 tergelincir. Namun awak kapal kembali dengan selamat ke Bumi setelah beberapa menit dalam penerbangan.


More

Friday, March 23, 2018

Jepang Siram Startup Antariksa Rp 12,9 T

SPACE TOURISM INDONESIA -- Jepang menawarkan pendana senilai US$940 juta (Rp 12,9 triliun) untuk membiayai perusahaan rintisan (startup) luar angkasa dalam rangka mendorong pertumbuhan industri tersebut, pihak pemerintah mengumumkan pada hari Selasa (20/3/2018) dalam sebuah acara di Tokyo.

Dana tersebut akan disediakan lewat investasi dan pinjaman selama lima tahun mendatang sebagai bagian dari inisiatif pemerintah untuk melipatgandakan nilai industri luar angkasa yang saat ini mencapai lebih dari US$11 miliar.

Jumlah startup luar angkasa Jepang yang kurang dari 20 entitas membuat banyak orang memandang pendanaan ini penting untuk membantu perusahaan baru menutup ongkos beberapa bidang, seperti riset atau mengajukan paten.

"Kami yakin ini akan diingat sebagai titik balik industri kami yang berkembang," kata Takeshi Hakamada, CEO dan pendiri startup penjelajahan bulan bernama ispace dalam sebuah pernyataan.

Ispace telah menerima sokongan dana dari pemerintah sebelumnya, termasuk dalam rangkaian pembiayaan senilai $90,2 juta yang juga disokong Suzuki Motor dan Japan Airlines.

Sejak didirikan tujuh tahun lalu, ispace lolos kompetisi Lunar XPRIZE dari Google untuk mendanai dua misi eksplorasi ke bulan. Misi pertama akan dilakukan akhir tahun 2019 dan yang kedua akan dilaksanakan akhir tahun 2020.

Pemerintah Jepang sedang membentuk sebuah instansi untuk mengelola pendanaan dan menghubungkan startup dengan talenta lokal dari berbagai organisasi, seperti Japan Aerospace Exploration Agency atau anak perusahaan pembuat roket milik Mitsubishi Heavy Industries.

Di tahap awal, setiap startup berhak menerima bantuan dana sekitar US$100.000 untuk membantu menampilkan berbagai konsep ke para investor. Usaha yang menjanjikan dan perusahaan yang lebih matang dapat memperoleh sisa dari dana senilai $940 juta tersebut untuk pengembangan selanjutnya.

More

Sunday, January 8, 2017

Menggagas Reksa Dana untuk Pengembangan Industri Antariksa

SPACE TOURISM INDONESIA -- Industri antariksa di Indonesia selalu mengalami kendala dengan pendanaan.

Padahal di luar negeri, beberapa perusahaan antariksa sudah mulai didanai oleh produk-produk pedanaan dari pasar saham dan keuangan.

Hal yang sama juga di Indonesia, reksa dana, saham, sukuk telah mulai dimanfaatkan organisasi sosial (baca) dan keagamaan (baca) untuk membiayai anak perusahaan.

Lalu mengapa tidak membuat reksa dana untuk industri antariksa? BUMN di bawah LAPAN akan dapat mengembangkan insutri antariksa dengan pendanaan dengan sumber yang terdiversifikasi.

Baca: Nilai Saham Tesla dan SpaceX

Thursday, January 5, 2017

Etiopia Ingin Belajar Ilmu Antariksa dari LAPAN

SPACE TOURISM INDONESIA -- Ethiopia menyatakan minatnya untuk mempelajari sektor penerbangan dan antariksa dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), untuk meningkatkan sumber daya di bidang tersebut.

Dalam keterangan resmi Lapan, Ethiopia mengirimkan 45 mahasiswanya ke Indonesia untuk mempelajari teknologi penerbangan dan antariksa dari Lapan melalui berbagai program beasiswa yang dikeluarkan pemeeintah negara tersebut.

“Ethiopia ingin belajar dari Indonesia, karena minimnya sumber daya manusia di bidang penerbangan dan antariksa dari negara itu,” isi keterangan resmi Lapan, Jumat (23/12).

Rombongan mahasiswa Ethiopia didampingi oleh Allega Hairu Teffera dari Kedutaan Besar Ethiopia di Indonesia. Rombongan mengunjungi kantor Lapan, untuk memperdalam pengetahuan mengenai bidang riset Lapan.

Lapan sendiri memiliki kompetensi utama di bidang sains antariksa dan sains atmosfer, teknologi penerbangan dan antariksa, penginderaan jauh, serta kajian kebijakan penerbangan dan antariksa.

Nantinya, Ethiopia juga akan mengirimkan tenaga ahlinya, untuk mempelajari lebih jauh terkait penerbangan dan antariksa dan diimplementasikan di negaranya.

Lapan memiliki visi dan pengalaman di bidang penerbangan, serta antariksa yang baik, sehingga akan mendorong negara tersebut melakukan join research dengan Indonesia.

More

Wednesday, November 30, 2016

Sinyal Telekomunikasi dari dan ke Planet Mars Semakin Kuat Berkat TGO



SPACE TOURISM INDONESIA -- Orbiter atau pesawat pengorbit baru milik European Space Agency (ESA) menguji instrumen dan memperlihatkan foto Mars terbaru. Disebut Trace Gas Orbiter (TGO), alat pemantau ini tiba di Mars pada 19 Oktober 2016. Dilansir Phys, Selasa (29/11/2016), TGO mengorbit secara elips di atas permukaan Mars.

Ketinggian orbit TGO sekira 230-310 kilometer hingga 98 ribu kilometer di atas permukaan planet merah setiap 4,2 hari, orbiter ini juga dapat memantulkan sinyal telekomunikasi robot-robot NASA yang sudah terlebih dahulu berada di Mars. (baca)

TGO sempat menguji empat instrumen sains pada 20-28 November 2016. Data dari orbiter tersebut kini dirilis untuk menunjukan jarak observasi yang diharapkan. Tujuan utama TGO ialah untuk mengumpulkan informasi secara rinci mengenai gas langka dalam atmosfer planet, termasuk metana, uap air, nitrogen dioksida dan acetylene, dilaporkan okezone.com.

Metana juga diproduksi di Bumi, yang muncul terutama oleh aktivitas biologis dan tingkat yang lebih kecil oleh proses geologis, seperti reaksi hidrotermal.


Antariksa

Made In Indonesia

Falak dan Antariksa

Beasiswa dan Lowongan Kerja

-::[AIRCRAFT CARRIER INDONESIA]::-