Showing posts with label astronaut. Show all posts
Showing posts with label astronaut. Show all posts

Monday, April 18, 2011

Sekolah Astronot: Program S2 Aeronotika Dan Astronotika – Institut Teknologi Bandung

Aeronautics & Astronautics Study Program offers undergraduate, master and doctoral degree courses. The education prepares the graduates with a wide range of careers in aerospace industr y in the fields of aerodynamics, aircraft structure, flight mechanics, aeroelasticity, aircraft design, astronautics and air transportation. Although the program is oriented towards aerospace fields it is sufficiently broadly based for the graduate to work in different industry sectors.

The undergraduate program is a 4-year, 144 credit units program. The courses could be grouped into Basic Sciences, Basic Engineering Sciences, Engineering Sciences, Aerospace Engineering Science, Aerospace Design, Integration and Operation, Elective Courses to broaden the knowledge of the students, and other supporting courses such as Management. In the 4th year, the students should take Industrial Training to allow them to experience real working environment. A final year project should be performed at the 8th semester as a research or project exercise.

The master program is a three-semester, 36 credit units program. It provides training for those aiming toward a PhD program or research and development engineering activity in research institution as well as in industry. The doctoral program is a 6-semester, 54 credit units program in research which culminates in a PhD dissertation.

To support education and research activities, the Study Program of Aeronautics and Astronautics has excellent laboratory facilities including: Low Speed Wind Tunnel, Static and Fatigue Testing Machine, Flying Laboratory, Structural Dynamics and Aeroelasticity and Aircraft Design Center.

One of the strong point of the Study Programs is its close collaboration with aerospace industry and research institutions in Indonesia. The staff members were involved in the development of commuter aircraft designed by PT Dirgantara Indonesia (formerly PT IPTN), the Indonesian Aircraft industry. Close collaboration with major airlines in Indonesia and airport management office is also established. The industrial problems gained in the collaboration enriched the lecture materials with realistic illustrations.


Alamat : 022 2504529
Telepon Program Studi : 022 2504529
Email Jurusan : sekjur@ae.itb.ac.id
Website :

Mulai Beroperasi : 1999-02-25
Nomor SK DIKTI : 150/DIKTI/KEP/2007
SK DIKTI Berakhir : 2010-09-21
Ketua Prodi :INDRA NURHADI

Sekolah Astronot: Institut Aeronotika dan Astronotika Indonesia

Sebagai negara maritim terbesar di dunia, penguasaan kedirgantaraan merupakan sebuah kebutuhan strategis bagi bangsa Indonesia. Dengan wilayah yang sangat luas dan letak geografis yang strategis, penguasaan kedirgantaraan merupakan salah satu faktor penentu dalam perkembangan ekonomi, sosial, politik dan pertahanan negara.

Upaya untuk mengembangkan potensi kedirgantaraan telah dilakukan sejak awal kemerdekaan, baik untuk kebutuhan sipil maupun militer. Beberapa perkembangan penting diantaranya, pengembangan sistem pertahanan kedirgantaraan, pendirian pendidikan teknik penerbangan, pendirian maskapai penerbangan nasional, pengembangan peroketan dan industri pesawat terbang. Kedirgantaraan tidak hanya menyangkut transportasi, namun juga terkait pada bidang energi, penginderaan-jauh dan telekomunikasi.

Perjalanan upaya penguasaan kedirgantaraan mengalami pasang surut, namun hal ini tidak meniadakan fakta bahwa penerbangan memegang peranan penting dalam penegakan kedaulatan, mempersatukan bangsa dan menjadi salah satu tolok ukur kemampuan teknologi bangsa Indonesia. Banyak kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia dalam bidang kedirgantaraan, namun sebagian besar, upaya tersebut belum berjalan secara berkelanjutan.

Dengan kemajuan teknologi dunia di bidang penerbangan, banyak hal yang masih perlu dilakukan oleh Indonesia sebagai salah satu negara anggota ICAO, agar dapat setara dengan negara lain, baik dalam pengembangan industri, jasa, infrastruktur, navigasi, manajemen dan sistem regulasi.

Masalah yang luas, kompleks dan saling terkait serta kemajuan teknologi yang cepat di bidang penerbangan membutuhkan pemahaman yang menyeluruh dan pengelolaan yang terpadu di tiap negara. Diperlukan strategi jangka panjang dan program nyata di bidang kedirgantaraaan yang didasari atas kemampuan SDM, sehingga terjadi perkembangan secara berkesinambungan. Diperlukan kerjasama antara stake holder kedirgantaraan, baik industri, jasa, lembaga penelitian, pendidikan dan pemerintah.

Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan wawasan dan kemampuan komunitas kedirgantaraan, mendorong lahirnya inisiatif kebijakan dan program kedirgantaraan yang berwawasan ke depan. Peningkatan dapat dilakukan dengan membangun komunikasi dan program bersama melalui seminar, pengkajian dan program peningkatan SDM lain, mengenai masalah-masalah kedirgantaraan oleh para pemangku kepentingan, termasuk diantaranya pemerintah, swasta, praktisi, peneliti,pendidik dan mahasiswa.

Institut Aeronotika dan Astronotika Indonesia

Institut Aeronotika dan Astronotika Indonesia (IAAI) didirikan pada tanggal 31 Januari 2003 . Lembaga ini melakukan kegiatan pertukaran informasi iptek-rekayasa di bidang aeronotika dan astronotika melalui penyelenggaraan seminar dan diskusi ilmiah a.l, ISASTI (International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia) dan Indonesian Airshow di tahun 1986. IAAI juga menerbitkan Journal IAAI yang dikelola dalam rangka menyebarluaskan pengetahuan di bidang kedirgantaraan di Indonesia .

Dalam era saat ini, dimana Pemerintah tidak lagi menjadi pendorong utama dan lebih bersifat sebagai fasilitator dan regulator, maka pemangku kepentingan kedirgantaraan dituntut lebih aktif bersama-sama dengan Pemerintah untuk meningkatkan kemampuan Indonesia di bidang ini.

Dengan dukungan dari para Pendiri, beberapa orang generasi penerus dan pelaku di bidang kedirgantaraan, pada tanggal 4 Nopember 2009 mengambil inisiatif untuk merevitalisasi forum komunikasi ini.

IAAI bertujuan untuk dapat menjadi pendorong untuk membangun visi, meningkatkan profesionalisme dan membangun budaya kedirgantaraan Indonesia agar bangsa indonesia dapat memanfaatkan bidang kedirgantaraan secara maksimal dan berkelanjutan. Ruang lingkup minat IAAI tidak hanya pada bidang rekayasa, namun juga pada bidang operasi, pemeliharaan pesawat terbang, navigasi, kebandaraan, pelatihan SDM, regulasi dan pengembangan profesi melalui fasilitasi kajian teknis dan strategis.

Jakarta, 4 Nopember 2009.

Wednesday, October 7, 2009

Indonesia Harus Buka Sekolah Tinggi Ilmu Astronaut (STIAs)

Saatnya Indonesia membuka pusat pendidikan yang berbasis keastronotan. Banyak negara sekarang ini yang terpaksa gigit jari karena tidak menguasai seluk beluk system keastronotan. walau negara tersebut secara fakta telah bisa memproduksi roket ruang angkasa peluncur satelit.

India bahkan bersedia membayar 30 an juta dollar ke Rusia agar bisa menerbangkan astronot mereka sebagai langkah awal untuk meluncurkan misi berawak ke angkasa luar.

Nah... ini celah yang bisa ditangkap Indonesia. Mengapa Indonesia???? karena Indonesia mempunyai dua ahli ruang angkasa yang dulu pernah bakal berangkat ke ruang angkasa dari AS tapi tidak jadi. Dr Pratiwi dan Taufik Akbar bisa menjadi guru besar yang bisa menelorkan astronot-astronot Indonesia atau paling tidak membuat Indonesia menjadi salah satu pusat pendidikan astronot. Pengalaman mereka saat belajar di AS seharusnya tidak hilang begitu saja.

Khabarnya Indonesia mempunyai dua cadangan lagi yang berasal dari TNI, yang semuanya bisa menjadi instruktur yang hebat dalam Sekolah Tinggi Ilmu Astronaut yang bakal dibuka.

Suatu saat, ketika LAPAN sudah matang dalam memproduksi roket dengan kekuatan yang lebih besar, Indonesia telah bisa dan siap sedia dengan awak roket angkasa luar yang bisa membuat sejarah Indonesia semakin cemerlang.

Di lain pihak, Indonesia bisa menjadi tujuan wisata bagi mereka yang ingin menikmati turisme ruang angkasa yang bakal diluncurkan oleh roket exclusice kelas executive yang dibuat oleh LAPAN.

Sunday, October 4, 2009

Iran to start manned spaceflight

After a series of breakthroughs in space research and technology, Iran sets the wheels turning on plans to send its first astronaut into orbit.

Iran's Minister of Communications and Information Technology, Reza Taqipour, said Wednesday that scientists are exploring ways to implement preliminary plans to launch a manned mission into space.

“We have a clear outline of the plans, but at the same time we are aware that implementing our plans depend on a broad national participation,” Taqipour told Mehrnews on Saturday.

Thursday, September 17, 2009

Idul Fitri to fall on Sept. 20 : Lapan astronomer

The first day of the Idul Fitri festivity will fall on September 20, based on astronomical calculations, according to an astronomer of the National Institute of Aeronautics and Space (Lapan).

Saturday, August 29, 2009

Pemegang Tiket Nasa

Empat calon antariksawan Indonesia hasil seleksi terakhir akan dikirim ke Nasa untuk seleksi berikutnya. masing-masing Taufik Akbar, Pratiwi, M.K Yusuf, dan B. Harymurti (nas)

KINI tinggal empat nama yang tersisa sebagal calon antariksawan pertama Indonesia. Nama mereka diumumkan oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, A. Tahir, Selasa pekan ini. Mereka merupakan hasil pilihan dari 12 calon, yang telah menjalani masa karantina penuh selama satu minggu di Lembaga Kesehatan Penerbangan & Ruang Angkasa (Lakespra) Saryanto, akhir Juni lalu. Lewat seleksi tahap kedua yang diisi acara wawancara dengan Tim Persiapan Antariksawan Indonesia (TPAI) dan Kopkamtib, keempat calon tersebut akan berangkat keAS, akhir bulan ini, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan di lembaga penerbangan antariksa negara itu (NASA) selama dua minggu. "Tapi hanya untuk mengetahui apakah keempat calon itu dapat diterima NASA, sedangkan siapa yang akan dipilih ditentukan oleh Indonesia," kata Prof. Dr. Doddy Tisnaamidjaja, ketua TPAI.

Besar kemungkinan keempat calon akan diterima NASA. "Soalnya, saya lihat pemeriksaan di Indonesia lebih ketat daripada di NASA sendiri," kata Duane L.Ross, ketua Dewan Seleksi Astronaut NASA. Ia dan Dr. Robert Parker - astronaut AS - diundang ke Indonesia, akhir bulan lalu. Sebagai contoh, NASA sendiri dalam menyeleksi calon astronautnya tak menggunakan pengujian human centrifuge, decompression chamber, ataupun ENG yang digunakan untuk menyeleksi calon penerbang tempur itu. "Wah, kalau menggunakan alat-alat itu, kami takut tak ada yang melamar jadi antariksawan," kata Ross berseloroh.

Agaknya era pemilihan the right stuff dalam menentukan calon astronaut memang tinggal nostalgia belaka. "Saya kira 75% dari 100 orang yang diambil sembarangan di AS bisa memenuhi syarat," kata Robert Parker, ahli astronomi itu.

Penerbangan ruang angkasa memang sudah mendekati bentuk rutin. Program pesawat ulang alik NASA, misalnya, dijadwalkan mengangkasa setiap tiga minggu. NASA masih berharap jumlah penerbangan tiap tahun ini dapat ditingkatkan lagi. "Soalnya, kami baru mencapai titik impas jika mengangkasa setiap dua minggu," kata Ross menelaskan.

Karena itu, pesawat ulang alik dirancang agar setiap orang dapat memanfaatkannya. Misalkan dalam melakukan olah gerak dengan luwes sehingga penumpang di dalamnya hanya merasakan percepatan di bawah 3 G saja. Tekanan udara di dalamnya pun dijaga tetap I Atm. Artinya, lebih "normal" daripada di dalam pesawat Boeing 747 atau pesawat terbang komersial lainnya.

Namun, TPAI sendiri memang mempertimbangkan faktor lain di luar kesehatan jasmani dan rohani belaka. "Dia 'kan harus mewakili bangsa Indonesia," kata dr. Sunaryo, wakil ketua TPAI. Selain itu, antariksawan ini diharapkan mampu melakukan eksperimen ilmiah Indonesia yang dilaksanakan di angkasa luar itu. Berikut ini, kecuali Bambang Harymurti (lihat Surat dari Redaksi), tiga calon astronaut lainnya yang nama-namanya diumumkan Menparpostel A. Tahir, setelah melaporkannya ke Presiden, Selasa pekan ini.

Dr. Pratiwi Pujilestari Soedarmono, Ph.D.Dosen FK UI ini adalah satu-satunya calon astronaut Indonesia yahg merangkap sebagai pengusul eksperimen ilmiah. Gelar doktor di bidang rekayasa genetik diperolehnya dari Universitas Osaka, Jepang, Maret 1984. Konon, ibu muda, 33, ini adalah doktor wanita Indonesia pertama yang lulus dari Negeri Sakura.

Mondar-mandir mengikuti seminar ilmiah di luar negeri, Pratiwi - yang biasa dipanggil Wiwik - selalu membawa oleh-oleh kuman ke tanah air. Kuman ini yang kemudian disimpan dan ditelitinya di Bagian Mikrobiologi UI, Jakarta. Waktu luangnya yang sempit dimanfaatkan bagi anak tunggalnya yang baru berusia 8 tahun atau suaminya, seorang pengusaha swasta.

"Saya melamar karena dorongan rekan sekerja," kata Wiwik, yang banyak mengenal para cendekia Indonesia itu. Kegemarannya berjoging, renang, ataupun tenis, tampaknya, membuat peneliti yang berbobot 53 kg dengan tinggi 164 cm ini mampu menjaga kesehatan dan kebugarannya.

Kapten M.K. Yusuf

Calon antariksawan tertua ini, 49, sangat dikenal dalam dunia penerbangan nasional. Maklum, sebagai instruktur kepala di Dinas Kelaikan Udara, hampir semua pesawat terbang di Indonesia harus diuji coba olehnya. Termasuk yang baru mengalami overhaul. Kemampuannya sebagai penerbang terbukti dari dipercayanya bekas penerbang TNI AL ini sebagai instruktur penerbang keluarga Presiden.

Bertubuh tinggi dan langsing, Monty nama panggilan Yusuf - mengaku suka berjoging di sekitar rumahnya, kompleks perhubungan udara di Warung Jati, Jakarta. Alasan melamar menjadi antariksawan? "Ah, sekadar ikut meramaikan," katanya berdiplomasi.

Ir. Taufik Akbar

Barangkali inilah calon antariksawan Indonesia yang paling menguasai soal Satelit Palapa. Pasalnya, insinyur elektro ITB ini bekerja di bagian perencanaan Perumtel dan ikut sibuk dalam proyek Palapa B2.

Ayah muda ini, 34, dikenal agak pendiam ketika menjalani karantina. Karena itu, tak begitu dikenal. Namun, sifatnya sebagai pendengar yang baik terbukti ketika ia mengajukan pertanyaan yang selalu kritis.

Keempat calon ini akan dibagi menjadi dua kelompok. Yaitu dua orang yang akan menjalani latihan di Houston, AS, mulai Februari tahun depan dan yang akan berlatih sebagai cadangan - di Indonesla.

Yang ikut dalam pesawat ulang alik Columbia, 23 Juni 1986, hanya satu antariksawan Indonesia. Yang seorang lagi memang disiapkan sebagai cadangan saja. Pihak Indonesia, agaknya, merasa perlu memiliki tiga cadangan, sementara NASA biasanya hanya menyiapkan satu. Sebab, sejak peluncuran antariksawan pertama NASA, 1961, baru satu kali astronaut cadangan dipakai.

Gagalnya Kartini Mengangkasa


Namun nasib berkata lain, sebelum penerbangan ke luar angkasa nya Ibu Pratiwi terlaksana sebuah musibah menimpa NASA yaitu salah satu pesawat ulang aliknya, Challenger, meledak tak lama setelah uplifted. Akibat kejadian ini, NASA membatalkan sejumlah proyek luar angkasanya termasuk program yang akan diikuti Dr. Pratiwi.

Misi yang tertunda tersebut akhirnya batal karena NASA memilih untuk tidak menggunakan pesawat ulang alik lagi untuk membawa satelit sehingga otomatis gagal pula cita-cita ibu Pratiwi untuk jadi astronot pertama Indonesia.

Kartini Modern Indonesia

Keterlibatan ibu Pratiwi dalam program luar angkasa ini atas kerjasama dengan NASA dalam rangka peluncuran satelit kebanggaan Indonesia, Palapa, beserta beberapa satelit lain dari berbagai negara. Rencananya misi diluncurkan pada musim panas tahun 1986 dengan menggunakan pesawat ulang alik Columbia.

Ketika itu berita ini menjadi bahan perbincangan dimana-mana dan para kaum wanita saat itu sangat berbangga sekali bahkan sampai-sampai ibu Pratiwi Sudarmono ini disebut-sebut sebagai kartini modern.

Pratiwi Pujilestari Sudarmono


Maiden name: Sugito; graduated from Highschool, Dyakarta, 1971; M.D. from the University of Indonesia, Dyakarta, 1976; Master of science in microbiology from the University of Dyakarta, 1980 and Ph.D. in genetic engineering and biotechnology from Research Institute of Microbioal Diseases, Osaka University, Japan, 1984;

was selected for Palapa-B-3 STS-61H mission; later research scientist at the University of Dyakarta; advisor for Bandung Institute of Technology; currently Vice Dean, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta.

Taufik Akbar: The Astronaut


Planned shuttle mission for deployment of commercial communications satellites and a spaceflight of an Indonesian astronaut..

Bachelor of Science from Bandung Institute of Technology, 1975; Engineer in the field of telecommunication; was selected as backup for a shuttle-mission in 1986; he was involved in the development of the Palapa Satellite-System; later Director Human Resources, Perusahaan Perseroan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Antariksa

Lokal

Astronomi