Tuesday, November 10, 2009

Kinerja LAPAN Masih Fokus di Satelit

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memiliki banyak target dalam memajukan dunia antariksa nasional. Salah satunya adalah meluncurkan satelit secara mandiri.

Untuk itu Lapan secara bertahap mengembangkan dan meluncurkan roket peluncur satelit (RPS) yang diharapkan rampung pada 2014 mendatang. Namun dalam setiap ambisi yang akan dicapai, tentunya ada berbagai hambatan yang menghadang.

Sama seperti lembaga lainnya, Lapan pun memiliki program kerja terencana yang ingin dicapai. Yang terpenting adalah pemerintah, terutama Kementerian Riset dan Teknologi, terus memberikan dukungannya kepada Lapan untuk mewujudkan berbagai program kerja tersebut.

Rencana program itu sudah diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat, namun perlu disadari pula bahwa banyak hal-hal lain yang menjadi prioritas pemerintah.

Sayangnya, antariksa belum menjadi prioritas pemerintah. Porsi anggaran untuk bidang teknologi di Indonesia adalah sekira 0,1 persen dan itu pun harus dibagi-bagi lagi dengan lembaga bidang sains dan teknologi lainnya. Anggaran untuk Lapan sendiri adalah USD20 juta atau Rp188 miliar per tahun. Sebagai perbandingan, di negara lain rata-rata anggaran untuk bidang teknologi setidaknya diberi porsi sebesar dua persen.

Akan tetapi, dengan segala keterbatasan, hal tersebut justru menjadi sebuah tantangan dan menimbulkan sikap obsesif untuk mewujudkannya.

Diantara sekian banyak program kerja Lapan, pengembangan roket merupakan salah satu program yang mendominasi kegiatan lembaga antariksa ini. Secara bertahap, Lapan telah sukses melakukan dua peluncuran roket yang menjadi cikal bakal RPS.

Pada 2008, RPS bernama RX-320 berhasil diluncurkan dari Pusat Peluncuran Roket milik Lapan di Pameungpeuk, Garut. Menyusul di tahun 2009, generasi baru RPS dengan ukuran yang lebih besar, RX-420 berhasil diluncurkan di tempat yang sama.

Saat ini, Lapan tengah menggarap RPS yang lebih besar dari dua RPS sebelumnya, RX-530. Pada 2010, Lapan berencana meluncurkan RPS lagi. Namun masih belum pasti apakah RPS yang diluncurkan merupakan kombinasi dari RX-320 dengan RX-420, atau meluncurkan RX-530 itu sendiri.

Pengembangan roket ini merupakan tahapan agar kita bisa melakukan peluncuran satelit milik sendiri. Kita tidak mau selamanya terus-menerus bergantung kepada luar negeri. Selama ini, untuk melakukan peluncuran satelit kita selalu membonceng atau 'piggybacking' pada RPS milik negara lain.

Saat meluncurkan satelit Tubsat pada 2007, Indonesia membonceng pada RPS milik lembaga antariksa India ISRO (Indian Space Research Organization). Pun untuk peluncuran Twinsat atau satelit kembar yang dijadwalkan pada 2011 mendatang, kita masih membonceng roket yang sama. Sementara RPS kita, baru akan rampung pada 2014 mendatang. Kita semua berharap, jika RPS tersebut telah rampung, kita bisa meluncurkan satelit secara mandiri.

Ketidakleluasaan dana memang diakui menjadi salah satu faktor tertinggalnya dunia antariksa kita. Keterbatasan anggaran tak hanya menghambat rampungnya proyek roket dan satelit, tetapi juga kesempatan bekerja sama dengan lembaga antariksa negara lain.

Lapan memang dituntut kreatif menemukan terobosan dalam mengembangkan teknologi ini. Teknologi di bidang antariksa merupakan teknologi yang disembunyikan oleh setiap negara. Mereka tidak akan dengan mudah membuka 'rahasia dapur' mereka kepada negara lain.

Di sisi lain, negeri ini tetap membutuhkan guru dari luar negeri melalui jalinan kerjasama dengan mereka. Sebagai contoh, dalam proyek pengembangan satelit Tubsat, Lapan bekerjasama dengan Technice Universitaat (TU), Berlin, Jerman. Dari mereka, Lapan banyak menimba ilmu dalam bidang pengembangan satelit mikro.

Kalau soal Sumber Daya Manusia (SDM), kita patut bersyukur karena SDM kita tak kalah hebat dengan negara lain. Terbukti, Lapan belajar dengan cepat dan telah menorehkan kebanggaan untuk negeri ini lewat karyanya. Salah satunya adalah satelit Tubsat yang beroperasi dengan sangat baik hingga sekarang sejak diluncurkan pada 2007.

Tubsat merupakan satelit mikro pertama milik Lapan dan satu-satunya di dunia yang memiliki kelebihan mendokumentasikan data dalam bentuk video yang dihadirkan secara langsung pada saat kejadian (real time).

Semangat Lapan tak pernah surut di tengah segala keterbatasan yang menghadang. Selain mengembangkan RPS, Lapan pun disibukkan dengan pengembangan satelit. Tahun depan, satelit kembar segera rampung dan akan diluncurkan pada 2011. Selain satelit kembar, kedepannya Lapan pun akan menggarap proyek satelit tele-education Ki Hadjar Dewantara.

Bagaimana dengan target menerbangkan pesawat ulang alik beserta astronotnya ke luar angkasa? Hal itu sepertinya memang masih jauh dari harapan. Meski demikian, kerja keras Lapan di tengah kondisi seperti ini layak diacungi jempol. Untuk saat ini, yang menjadi fokus Lapan adalah mewujudkan lembaga yang bisa menempatkan satelit di orbit secara mandiri, agar tak bergantung lagi pada negara lain.

No comments:

Post a Comment

Antariksa

Made In Indonesia

Falak dan Antariksa

Beasiswa dan Lowongan Kerja

-::[AIRCRAFT CARRIER INDONESIA]::-