Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Sunday, January 8, 2017

Menggagas Reksa Dana untuk Pengembangan Industri Antariksa

SPACE TOURISM INDONESIA -- Industri antariksa di Indonesia selalu mengalami kendala dengan pendanaan.

Padahal di luar negeri, beberapa perusahaan antariksa sudah mulai didanai oleh produk-produk pedanaan dari pasar saham dan keuangan.

Hal yang sama juga di Indonesia, reksa dana, saham, sukuk telah mulai dimanfaatkan organisasi sosial (baca) dan keagamaan (baca) untuk membiayai anak perusahaan.

Lalu mengapa tidak membuat reksa dana untuk industri antariksa? BUMN di bawah LAPAN akan dapat mengembangkan insutri antariksa dengan pendanaan dengan sumber yang terdiversifikasi.

Baca: Nilai Saham Tesla dan SpaceX

Wednesday, May 11, 2011

Another SLV Rocket From Lapan

Indonesia's space agency, LAPAN, unveils its first prototype of satellite launch vehicle (SLV) or RPS (Roket Pembawa Satelit) in Indo-Defence, Indo Aerospace, and Indo Marine 2010 exhibition (IDAM 2010).

The exhibition arranged by The ministry of defense is part of Indonesia's effort to explore outer space for the benefit of human kind, especially, Indonesians. The exhibition occurred in 10-13 November 2010 in JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

LAPAN rockets are classified "RX" (Roket Eksperimental) followed by the diameter in millimeters. For example, the RX-100 has a diameter of 100 mm. LAPAN's current workhouse rocket propulsion system consists of four stages, namely the three-stage RX 420 and the RX-320 level. It is planned to use the RX-420 as a booster (rocket booster) RPS for the planned Roket Pengorbit Satelit ("Orbital Satellite Rocket") planned to fly in 2014. In 2008 optimistic hopes were that this rocket,. known as SLV (Satellite Launch Vehicle) would first be launched in Indonesia to 2012, and if there were extra funds pursuant to the good economic situation of 2007-8, possibly the year 2010. In fact, the LAPAN budget for 2008 and 2007 was Rp 200 billion (approximately USD $20million). Budgetary issues surrounding the international credit crises of 2008-2009 placed many Indonesian technical projects in jeopardy most especially the complete development of RX-420 and associated micro-satellite program to world-class standards ahead of project finalization schedule and the opportunity to work together with the world institutions. LAPAN hopes to be an educating partner with Indian Aerospace in sciences related to satellite.

At November 11, 2010, LAPAN spokesman said the RX-550 rocket would undergo a static test in December this year and a flight test in 2012. The rocket will consist of four stages, will be part of an RPS-01 rocket to put a satellite in orbit. Before, the Polar LAPAN-TUBSAT (LAPAN-A1) satellite created in cooperation with Germany was successfully placed in orbit and until now still functioning well. The aim is to have home-made rockets and satellites.

LAPAN has re-established and rejuvenated Indonesian expertise in rocket and missile based weapons systems in cooperation with the TNI AL [Armed Forces of Indonesia] began in 2005. In April 2008, Indonesian TNI began a new missile research program alongside LAPAN. Prior to this, eight projects were sponsored by the TNI in Malacca monitoring with satellite remote LAPAN-TUBSat, most especially the theft of timber and alleged encroachment on Indonesian territorial waters in the 2009 escalation over Malaysia's claims to the huge gas fields off Ambalat-island.

Wednesday, May 4, 2011

Indonesia to build bio-pharmaceutical Center in Karanganyar

The research and technology ministry is sponsoring the formation of a bio-pharmaceutical center in Karanganyar district, Central Java, to improve the cultivation and post-harvest products of local farmers.

"We encourage efforts to set up a center of innovation in the region as a manifestation of the Regional Innovation System (Sida)," Research and Technology Minister Suharna Surapranata said here Monday.

The creation of such a center in Karanganyar was in accordance with the local potentials which indeed had long been known to produce traditional herbal raw materials like ginger, turmeric, black wild ginger, kencur (Kaempferia galanga) and others, the minister said.

The ministry of research and technology was making various prototypes of equipment according to the needs of the local people, such as a chopper and battering dryers (a powder) which is then expected to be developed by the local community.

Meanwhile, the vice chairman of Karanganyar Cluster Medicinal, Budi Suyatno said he was confident with a variety of equipments brought by ministry of research and technology to Karanganyar that would improve the quality and the quantity of the production of the local farmers.

"If the first, the farmer group of Karanganyar produced about ten tonnes of ginger per month, two tons of crude drug and 1 quintal ginger powder per month. I guarantee with these tools they can produce one ton of crude and one quintal of ginger powder, ginger, turmeric per day and the other materials," he noted.

Budi hoped, through the regional innovation system (Sida), six of the 17 districts in Karanganyar district as the the medicinal producer could have a better bargaining position in selling products to the factory.

The other clusters in Central Java province, which are also developed by the ministry includes knalpot-sapu glagah cluster in Purbalingga district, potato cluster in Banjarnegara district, in Wonogiri district.

In addition, there are also Jepara peanut cluster, Salatiga cluster processed food, Klaten metal clusters and Surakarta city cluster development of science and technology park and Banyumas district waste-water treatment cluster.

Monday, April 18, 2011

Satelit Buatan Rancabungur

Matahari belum menampakkan diri di Bubulak, pinggiran Bogor. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.30. Tapi Wahyudi Hasbi sudah buru-buru meninggalkan rumahnya dengan mobil dinas Avanza. Setelah bertemu dengan empat rekannya, ia tancap gas melewati jalan tol Jagorawi menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta.

Wahyudi bukan buru-buru hendak pulang kampung menggunakan pesawat Cessna sewaan yang sudah menunggu di sana. Tapi ia dan empat rekannya-termasuk dua orang Jerman ahli kamera satelit-ingin melakukan uji coba kamera yang akan dipasang di satelit Lapan A3 (Lapan-Orari). "Kami melakukan dua kali," katanya menuturkan pengujian yang ia lakukan beberapa waktu silam.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sedang membuat dua satelit yang akan diluncurkan bersamaan sekitar setengah tahun lagi. Keduanya adalah satelit Lapan A3, yang dikenal juga sebagai Lapan-Orari, serta Lapan A2. Kedua satelit ini bakal menjadi satelit pertama yang dirancang dan dirakit di dalam negeri.

Uji coba dan pemasangan modul untuk dua satelit itu terus dijalankan, termasuk pekan lalu di kawasan Ancol, Jakarta. "Kami menguji perangkat AIS," kata chief engineer untuk program La-pan A3 itu. AIS atau Sistem Identifikasi Otomatis Maritim adalah peranti yang diwajibkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) bagi kapal berbobot di atas 300 ton.

Pemancar relai AIS biasanya di darat dengan jangkauan hanya 50 mil laut (92 kilometer). Lapan berniat memasang relai AIS di satelitnya sehingga bisa dibaca dengan jangkauan lebih luas. Di Ancol, mereka merekam data kapal yang mondar-mandir di sekitar Pela-buhan Tanjung Priok.

Proyek pembuatan satelit kembar itu merupakan lanjutan dari satelit pertama buatan Indonesia yang dirakit melalui kerja sama dengan Technical University of Berlin (TUB), Jerman, yakni Lapan-TUBSat. Lapan-TUBSat bekerja sangat baik, bahkan melebihi harapan, sampai saat ini.

Saat pembuatan Lapan-TUBSat di Jerman, para insinyur Lapan serius mempelajari teknik dan seluk-beluknya. "Kontraknya memang termasuk transfer teknologi," kata Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Dirgantara La-pan Chusnul Tri Judianto.

Keberhasilan merakit Lapan-TUBSat membuat para ilmuwan itu yakin bisa membuat sendiri. Mereka pun menyusun program membuat satelit Lapan A2 dan Lapan A3, yang merupakan turunan Lapan-TUBSat-satelit yang dalam pendaftaran resmi di Uni Telekomunikasi Dunia disebut satelit Lapan A1.

Meski turunan, satelit kembar yang dirancang dan dirakit di Pusat Teknologi Elektronik Dirgantara Lapan di Rancabungur, pinggiran Bogor, itu berbeda dengan Lapan-TUBSat. Perbedaan pertama adalah garis lintasannya. Lapan-TUBSat membuat garis orbit dari utara ke selatan alias kutub ke kutub, sedangkan A2 dan A3 mengikuti garis khatulistiwa.

Dengan lintasan dari kutub ke kutub, hanya empat kali sehari satelit lewat di atas langit Indonesia. Dengan lintasan melintang mengikuti khatulistiwa, satelit A2 dan A3 bakal setidaknya 14 kali sehari lewat Indonesia sehingga bisa bekerja lebih banyak menghasilkan data. Selain beda lintasan, satelit kembar ini tidak berbeda jauh dengan La-pan-TUBSat. "Kita tidak mau bereksperimen terlalu jauh," kata Chusnul.

Lapan A2 dan A3 hampir mirip. Hanya, A2 menggunakan kamera video sebagai alat utama, sedangkan A3 menggunakan kamera foto yang akan memotret bumi. Satelit A3 ini juga dimaksudkan sebagai alat bantuan bencana sehingga menjadi alat relai radio amatir Orari. Pertimbangannya sangat sederhana. "Saat bencana di tempat terpencil, biasanya Orari itu yang paling cepat masuk," kata Chusnul.

Lapan sudah menjadwalkan peluncuran pada tahun ini dan, seperti satelit Lapan-TUBSat, akan menumpang roket India. Peluncuran dari India menguntungkan karena mendapat diskon harga. Biaya numpang satelit itu mestinya sekitar Rp 1 miliar, tapi kemudian didiskon separuhnya. Harga ini didapat karena India menumpang Indonesia mengendalikan satelit mereka dari Biak.

Sebelum dirakit, mereka ingin memastikan semua modul berjalan baik. Mereka tidak ingin mengalami nasib seperti Malaysia dan satelit buatannya, RazakSat-tidak jelas hasilnya setelah diluncurkan 2009. RazakSat semestinya sudah mengirim gambar tahun lalu, tapi sampai sekarang tidak ada beritanya.
Cakupan Satelit



Lintasan Lapan A2 dan Lapan A3 (Lapan Orari)
Dua satelit ini hanya mencakup wilayah khatulistiwa dan sekitarnya. Sehari setidaknya 14 kali melintasi wilayah Indonesia. Mereka akan kembali ke lintasan yang persis sama setiap lima hari.

Lintasan Lapan-TUBSat
Lintasannya utara-selatan sehingga lebih sering berada di luar wilayah Indonesia. Sehari hanya empat kali ia melintasi Indonesia.

2014, Lapan Orbitkan Empat Satelit
Salah satu sasaran utama kinerja Lapan pada 2011 ialah peluncuran satelit Twinsat (Lapan-A2 dan Lapan-Orari) untuk mitigasi bencana. Pengembangan satelit terus berlanjut, hingga pada 2014, Lapan akan memiliki empat satelit buatan sendiri meskipun dalam skala kecil. Selama ini, 10 satelit milik Indonesia masih buatan luar negeri.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Lapan Dr. Adi Sadewo Salatun, M. Sc. saat rapat kerja Menteri Riset dan Teknologi serta jajaran Kepala Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) dengan Komisi VII DPR RI di Ruang Rapat Komisi VII, Gedung Nusantara Lantai I, Senin (17/1).

Selain pengembangan satelit, Lapan juga bersiap melakukan studi kelayakan sarana dan prasarana stasiun peluncuran di Pulau Enggano, menguji statik roket RX-550, serta membahas RUU Keantariksaan dengan DPR. Roket RX-550 saat ini sedang dalam proses pengujian bekerjasama dengan BATAN dan dijadwalkan selesai paling lambat Maret 2011. “Jika semuanya telah siap, maka peluncuran RX-550 merupakan peluncuran roket paling besar sampai saat ini,” ujar Adi.

Dalam rapat tersebut, Kepala Lapan menyampaikan realisasi program utama Lapan 2010. Untuk bidang roket, telah dilakukan integrasi dan pengujian subsistem satelit mikro Lapan-A2 dan Lapan-Orari. Di bidang roket, Lapan mengembangan kemampuan roket nasional untuk keperluan riset ilmiah.

Kemudian, di bidang penginderaan jauh (inderaja), lapan mengembangkan model pemanfaatan data satelit inderaja untuk pengembangan wilayah, pemantauan dan inventarisasi sumber daya alam dan lingkungan, serta operasi pelayanan informasi mitigasi bencana (Simba).

Sementara itu di bidang sains antariksa dan atmosfer, Lapan menyuplai model atau data akurat tentang cuaca antariksa, prosedur standar peringatan dini dan mitigasi cuaca antariksa, serta layanan informasi pemanfaatan sains atmosfer. Selain itu, Lapan mendukung penguatan kelembagaan iptek dan regulasi kebijakan pengembangan kedirgantaraan nasional (harmonisasi RUU Keantariksaan).

Sekolah Astronot: Program S2 Aeronotika Dan Astronotika – Institut Teknologi Bandung

Aeronautics & Astronautics Study Program offers undergraduate, master and doctoral degree courses. The education prepares the graduates with a wide range of careers in aerospace industr y in the fields of aerodynamics, aircraft structure, flight mechanics, aeroelasticity, aircraft design, astronautics and air transportation. Although the program is oriented towards aerospace fields it is sufficiently broadly based for the graduate to work in different industry sectors.

The undergraduate program is a 4-year, 144 credit units program. The courses could be grouped into Basic Sciences, Basic Engineering Sciences, Engineering Sciences, Aerospace Engineering Science, Aerospace Design, Integration and Operation, Elective Courses to broaden the knowledge of the students, and other supporting courses such as Management. In the 4th year, the students should take Industrial Training to allow them to experience real working environment. A final year project should be performed at the 8th semester as a research or project exercise.

The master program is a three-semester, 36 credit units program. It provides training for those aiming toward a PhD program or research and development engineering activity in research institution as well as in industry. The doctoral program is a 6-semester, 54 credit units program in research which culminates in a PhD dissertation.

To support education and research activities, the Study Program of Aeronautics and Astronautics has excellent laboratory facilities including: Low Speed Wind Tunnel, Static and Fatigue Testing Machine, Flying Laboratory, Structural Dynamics and Aeroelasticity and Aircraft Design Center.

One of the strong point of the Study Programs is its close collaboration with aerospace industry and research institutions in Indonesia. The staff members were involved in the development of commuter aircraft designed by PT Dirgantara Indonesia (formerly PT IPTN), the Indonesian Aircraft industry. Close collaboration with major airlines in Indonesia and airport management office is also established. The industrial problems gained in the collaboration enriched the lecture materials with realistic illustrations.


Alamat : 022 2504529
Telepon Program Studi : 022 2504529
Email Jurusan : sekjur@ae.itb.ac.id
Website :

Mulai Beroperasi : 1999-02-25
Nomor SK DIKTI : 150/DIKTI/KEP/2007
SK DIKTI Berakhir : 2010-09-21
Ketua Prodi :INDRA NURHADI

Sekolah Astronot: Institut Aeronotika dan Astronotika Indonesia

Sebagai negara maritim terbesar di dunia, penguasaan kedirgantaraan merupakan sebuah kebutuhan strategis bagi bangsa Indonesia. Dengan wilayah yang sangat luas dan letak geografis yang strategis, penguasaan kedirgantaraan merupakan salah satu faktor penentu dalam perkembangan ekonomi, sosial, politik dan pertahanan negara.

Upaya untuk mengembangkan potensi kedirgantaraan telah dilakukan sejak awal kemerdekaan, baik untuk kebutuhan sipil maupun militer. Beberapa perkembangan penting diantaranya, pengembangan sistem pertahanan kedirgantaraan, pendirian pendidikan teknik penerbangan, pendirian maskapai penerbangan nasional, pengembangan peroketan dan industri pesawat terbang. Kedirgantaraan tidak hanya menyangkut transportasi, namun juga terkait pada bidang energi, penginderaan-jauh dan telekomunikasi.

Perjalanan upaya penguasaan kedirgantaraan mengalami pasang surut, namun hal ini tidak meniadakan fakta bahwa penerbangan memegang peranan penting dalam penegakan kedaulatan, mempersatukan bangsa dan menjadi salah satu tolok ukur kemampuan teknologi bangsa Indonesia. Banyak kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa Indonesia dalam bidang kedirgantaraan, namun sebagian besar, upaya tersebut belum berjalan secara berkelanjutan.

Dengan kemajuan teknologi dunia di bidang penerbangan, banyak hal yang masih perlu dilakukan oleh Indonesia sebagai salah satu negara anggota ICAO, agar dapat setara dengan negara lain, baik dalam pengembangan industri, jasa, infrastruktur, navigasi, manajemen dan sistem regulasi.

Masalah yang luas, kompleks dan saling terkait serta kemajuan teknologi yang cepat di bidang penerbangan membutuhkan pemahaman yang menyeluruh dan pengelolaan yang terpadu di tiap negara. Diperlukan strategi jangka panjang dan program nyata di bidang kedirgantaraaan yang didasari atas kemampuan SDM, sehingga terjadi perkembangan secara berkesinambungan. Diperlukan kerjasama antara stake holder kedirgantaraan, baik industri, jasa, lembaga penelitian, pendidikan dan pemerintah.

Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan wawasan dan kemampuan komunitas kedirgantaraan, mendorong lahirnya inisiatif kebijakan dan program kedirgantaraan yang berwawasan ke depan. Peningkatan dapat dilakukan dengan membangun komunikasi dan program bersama melalui seminar, pengkajian dan program peningkatan SDM lain, mengenai masalah-masalah kedirgantaraan oleh para pemangku kepentingan, termasuk diantaranya pemerintah, swasta, praktisi, peneliti,pendidik dan mahasiswa.

Institut Aeronotika dan Astronotika Indonesia

Institut Aeronotika dan Astronotika Indonesia (IAAI) didirikan pada tanggal 31 Januari 2003 . Lembaga ini melakukan kegiatan pertukaran informasi iptek-rekayasa di bidang aeronotika dan astronotika melalui penyelenggaraan seminar dan diskusi ilmiah a.l, ISASTI (International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia) dan Indonesian Airshow di tahun 1986. IAAI juga menerbitkan Journal IAAI yang dikelola dalam rangka menyebarluaskan pengetahuan di bidang kedirgantaraan di Indonesia .

Dalam era saat ini, dimana Pemerintah tidak lagi menjadi pendorong utama dan lebih bersifat sebagai fasilitator dan regulator, maka pemangku kepentingan kedirgantaraan dituntut lebih aktif bersama-sama dengan Pemerintah untuk meningkatkan kemampuan Indonesia di bidang ini.

Dengan dukungan dari para Pendiri, beberapa orang generasi penerus dan pelaku di bidang kedirgantaraan, pada tanggal 4 Nopember 2009 mengambil inisiatif untuk merevitalisasi forum komunikasi ini.

IAAI bertujuan untuk dapat menjadi pendorong untuk membangun visi, meningkatkan profesionalisme dan membangun budaya kedirgantaraan Indonesia agar bangsa indonesia dapat memanfaatkan bidang kedirgantaraan secara maksimal dan berkelanjutan. Ruang lingkup minat IAAI tidak hanya pada bidang rekayasa, namun juga pada bidang operasi, pemeliharaan pesawat terbang, navigasi, kebandaraan, pelatihan SDM, regulasi dan pengembangan profesi melalui fasilitasi kajian teknis dan strategis.

Jakarta, 4 Nopember 2009.

Sunday, March 27, 2011

Telkom-LAPAN to launch new satellite

Telkom, Indonesia's telecommunication company, together with LAPAN, Indonesia's space agency to launch new satellite next year. The satellite called Telkom-3 cost 200 million dollar US is now on its assembly in ISS-Reshetnev, Rusia.

The satellite, beside its commercial use could also be used to enhance Indonesia's ICT infrastructure as well as to boost defense and military system.

Thursday, March 3, 2011

Lapan dan Eksplorasi Antariksa

Lapan menerima kunjungan kerjasama delegasi Rusia di kantor pusat Lapan, Rawamangun, Jakarta. Sembilan orang perwakilan Lembaga Federal Antariksa Rusia (Roskosmos) dan dua orang kedutaan besar Rusia di bawah pimpinan delegasi, Yuriy Alexandrovic Milovanov disambut baik Kepala Biro Humasmagan Lapan, Dra. Ratih Dewanti, M. Sc.

Kunjungan ini merupakan implementasi persetujuan antara pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah Federasi Rusia pada 1 Desember 2006 lalu mengenai kerjasama di Bidang Eksplorasi dan Pemanfaatan Antariksa untuk Maksud Damai.

Untuk itu, kunjungan ini sekaligus mengadakan pertemuan para ahli/spesialis Roskosmos dan Lapan menyangkut berbagai bidang dan kemungkinan penggunaan teknologi dirgantara Rusia untuk kepentingan sosio-ekonomi Indonesia. Pertemuan berlangsung selama tiga hari, 25-27 Januari 2011 di lantai 4, ruang Rapat Manggala kantor pusat Lapan.

Pada pertemuan tersebut, dibahas kemungkinan potensi kerjasama yang saling menguntungkan. Petensi kerjasama meliputi bidang pemanfaatan penggunaan sistem satelit navigasi secara global, teknologi penginderaan jauh permukaan bumi, penggunaan sistem laser-optik, serta potensi keikutsertaan Indonesia dalam hal ini Lapan dalam proyek pendirian International Global Monitoring Aerospace System (IGMASS).

Selain itu, kedua pihak menyepakati pentingnya berbagi informasi yang diperlukan untuk pengkajian kemungkinan pembangunan infrastruktur peluncuran satelit ke angkasa luar di Indonesia dengan menggunakan kondisi geografis yang menguntungkan di Indonesia ke dalam Rencana Pengembangan Kerjasama Bilateral Rusia-Indonesia di bidang Kedirgantaraan Tahun 2011 – 2012.

Pada pertemuan ini Lapan menyampaikan ketertarikannya dalam pemanfaatan Glonass untuk mendukung riset dinamika ionosfer regional yang meliputi pengukuran Total Electron Content dan Scintillation, penelitian ionosfer untuk precursor gempa bumi di Indonesia, serta koreksi pengukuran posisi dan navigasi berbasis satelit.

Lapan beberkan peluang kerja di industri antariksa

Lapan mensosialisasikan hasil-hasil litbang dan penerapan teknologi dirgantara di hadapan 82 guru geografi. Sosialisasi ini berlangsung dalam Seminar Nasional dengan bertema Rekonstruksi Daerah Korban Bencana Berdasarkan Pendekatan Geografi yang diselenggarakan oleh Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Sabtu (5/2).

Acara tersebut merupakan rangkaian Olimpiade Geografi Nasional 2011 yang berlangsung pada 4-6 Februari. Lapan menghadirkan tiga pembicara yakni Kepala Bagian Humas, Dra. Elly Kuntjahyowati, MM yang memaparkan mengenai kegiatan litbang Lapan, fasilitas yang dimiliki oleh Lapan dan peluang karir untuk bekerja di Lapan.

Pembicara kedua, Kepala Unit Komputasi Iklim dan Atmosfer, Dr. Didi Setiadi, memaparkan mengenai kegiatan Penelitian sains atmosfer dan antariksa. Pada kesempatan tersebut diperkenalkan Satellite Disaster Early Warning System (SADEWA), yang merupakan sistem informasi satelit peringatan dini. SADEWA yang mulai dikembangkan pada akhir tahun 2010 ini memantau kondisi lingkungan mendekati real time dari satelit maupun sensor-sensor permukaan. Satelit ini kemudian memprakirakan kemungkinan terjadinya potensi bencana dengan menggunakan model-model komputer dan menyampaikan informasi peringatan dini bencana melalui monitor display, email, website, dan pesan singkat (SMS). Dalam presentasinya, Didi juga mensosialisakan GCM/LAM 1.0β, software Simulasi Dinamika Atmosfer Global/Regional untuk Pendidikan dan Penelitian.

Sementara pembicara Ketiga, Andi Setioko, M.Sc, memaparkan mengenai fasilitas dan poduk Kedeputian Penginderaan Jauh Lapan, stasiun bumi satelit penginderaan jauh dan pemanfaatan data penginderaan jauh dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

Dalam Olimpiade Geografi tersebut, Lapan juga membuka gerai pameran yang menampilkan hasil litbangnya. Lapan membagikan buku Pengantar Penginderaan Jauh, buku Pulau-Pulau Kecil Terluar, terbitan ilmiah, dan leaflet hasil litbang Lapan kepada peserta Olimpiade Nasional. Pameran yang bertemakan Lets Love Our Environtment by Doing simple juga menghadirkan kalangan swasta, pustra,l serta pameran foto dan kesenian.
Olimpiade Geografi Nasional adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Fakultas Geografi UGM. Kegiatan dalam acara ini meliputi Lomba ketangkasan Geografi SMP se-Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY serta Olimpiade Geografi SMA tingkat Nasional yang diikuti oleh 82 SMA di Indonesia dan sekolah internasional Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia. Selain itu juga diselenggarakan outdoor learning di Kaliadem, untuk melihat lokasi pasca erupsi merapi.

Sunday, February 20, 2011

Indonesia bangun fasilitas antariksa seharga Rp 40 Triliun di Enggano

Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) menetapkan tiga titik lokasi paling cocok untuk peluncuran roket yaitu daerah Tanjung Komang, Kiyoyo dan Tanjung Laboho, Bengkulu.

Penetapan lokasi itu atas persetujuan bersama Balai Penelitian Pengembangan, Bappeda, Badan Lingkungan Hidup, Dishubkominfo dan BKSDA Bengkulu, kata Kepala Balitbang Provinsi Bengkulu Winarkus, di Bengkulu, Jumat (18/2).

Daerah tersebut dipilih karena jauh dari pemukiman penduduk dan dekat dari permukaan laut.

"Lokasi disepakati berada pada ketinggian 20 meter dari permukaan air laut, sehingga lebih aman dan efektif bagi peluncuran," katanya.

Lokasi tersebut semuanya berada jauh dari pemukiman warga, tepatnya di daerah Selatan pulau Sebatik atau berada di selatan Pulau Enggano. Pemukiman penduduk berada di utara Pulau Enggano.

Namun, jalan menuju lokasi peluncuran roket itu belum didukung infrastruktur jalan dan listrik, meskipun lahan yang dibutuhkan cukup satu hektare ditambah lahan penyangga sebagai daerah pengaman sekitar 200 hektare.

Lahan di Tanjung Laboho termasuk kawasan taman buru yang dilindungi sehingga Balai Konservasi Sumber daya alam (BKSDA) Provinsi Bengkulu perlu menerbitkan rekomendasi.

Di dalam rekomendasi tersebut disebutkan bahwa jalur di dalam taman buru harus terlebih dulu mendapat persetujuan dari Menteri kehutanan dan DPR.

"Semua perizinanannya kita serahkan kepada mereka, LAPAN juga berada di pusat," kata Winarkus.

Sebelumnya Ketua Bappeda Provinsi Bengkulu Ir.HM.Nashsya mengatakan, lokasi itu tidak saja untuk satelit tapi juga untuk pengamanan wilayah Barat Pulau Sumatera.

Winarkus mengatakan bahwa perakitan dan peluncuran roket akan dilakukan di Pulau Enggano. Selama ini perakitan dilakukan di Serpong Banten dan diluncurkan di Garut.

"Kami bersyukur Pulau Enggano terpilih menjadi lokasi peluncuran roket karena banyak juga daerah lain yang menawarkan misalnya daerah Biak," katanya.

Satelit yang bakal diluncurkan di Pulau Enggano itu beratnya sekitar 3,8 ton dengan target ke orbit polar, namun belum diketahui ketinggian daya jelajahnya.

Biaya pembangunan tempat peluncuran roket sudah disiapkan oleh LAPAN dan memerlukan dana sekitar Rp40 triliun dan saat ini baru tahap survei awal.

"Hasil survei awal akan kita informasikan kepada mereka, nanti mereka akan melakukan pengkajian lebih mendetil, termasuk sosialiasi dengan masyarakat daerah itu," ujarnya.

Kepala Tata Usaha BKSDA Provinsi Bengkulu Supartono mengatakan, tim dari instasninya akan turun ke lokasi Enggano untuk mengecek lokasi yang disepakati sebagai lahan peluncuran roket LAPAN.

Tuesday, January 18, 2011

4 tahun, Satelit Pertama RI Masih Mengorbit

Satelit pertama buatan Indonesia, Lapan-Tubsat hingga saat ini masih mengorbit. Pada 10 Januari 2011 lalu, satelit ini berulang tahun keempat.

Untuk diketahui, satelit ini diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di India.

Ini di jauh di luar perkiraan. Sebab, dalam rancangan awal, satelit ini diperkirakan hanya akan berusia tidak lebih dari dua tahun. Keberhasilan ini merupakan suatu pembuktian bahwa engineer (perekayasa) Indonesia mampu membuat satelit yang andal.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Soewarto Hardhienata, satelit Lapan-Tubsat masih berfungsi dengan baik dan masih terus memberikan gambar dari ruang angkasa.

”Bahkan, jika tidak ada anomali, Lapan-Tubsat masih akan terus beroperasi hingga beberapa tahun lagi,” kata dia dalam rilis yang diterima VIVAnews, Selasa 18 Januari 2011.

Kata dia, ini adalah hal yang luar baisa bagi sebuah satelit mikro. "Karena banyak satelit semacam ini hanya berusia dua tahun."

Dijelaskan dia, Lapan-Tubsat merupakan satelit mikro atau satelit berukuran kecil dengan bobot 57 kg. Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub.

Satelit tersebut melewati wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari. Selama empat tahun, Lapan-Tubsat telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana misalnya gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan perkembangan jembatan Suramadu.

Bahkan, menurut Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Dirgantara Lapan, Chusnul Tri Judianto, Lapan dapat mengambil gambar letusan Gunung Merapi pada 2010. Saat itu, satelit-satelit penginderaan jauh milik negara-negara maju, tidak dapat mengambil gambar gunung itu karena seluruh wilayah udara di Merapi tertutup awan akibat erupsi.

”Inilah kelebihan Lapan-Tubsat. Satelit ini dapat digerakkan, sehingga mampu ’melirik’ dari sisi samping wilayah yang ingin dilihat. Pada satu hari itu, hanya Lapan-Tubsat yang berhasil melihat Merapi dari 650 kilometer di atas permukaan bumi,” ujar Chusnul.

Ke depan, Lapan akan terus melakukan pengembangan satelit. Dijelaskan Soewarto, kini Lapan sedang membangun dua satelit yaitu Lapan-A2 dan Lapan-Orari.

Kedua satelit yang disebut Twin- Sat atau Satelit Kembar berorbit ekuatorial, sehingga akan melewati Indonesia lebih banyak dari Lapan-Tubsat, yaitu 14 kali per hari. Kedua satelit akan mengemban misi untuk mitigasi bencana.

Rencananya Twin Sat akan diluncurkan pada 2011 ini dengan menggunakan roket India. Lapan-A2 akan membawa muatan AIS (Automatic Identification System) untuk mengindentifikasi kapal laut di perairan Indonesia dan kamera video dengan cakupan tiga kali lebih lebar dari Lapan-Tubsat.

Sementara, Lapan-Orari akan membawa muatan voice repeater dan APRS Repeater untuk komunikasi anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) saat bencana. Satelit ini juga akan membawa ADI star (Attitute Determination Instrument). Instrumen ini akan mengeluarkan cahaya seperti bintang yang terlihat dari bumi dengan mata telanjang.

Tuesday, November 30, 2010

LAPAN UJI TERBANG LIMA BUAH ROKET EKSPERIMEN

Senin (22/11), Lapan berhasil menguji terbang lima buah roket eksperimen berdiameter 200 mm dan 100 mm di stasiun peluncuran roket Lapan, Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat. Kelima roket tersebut membawa muatan Global Positioning System (GPS) untuk mengetahui posisi roket. Menurut Ka Pustekwagan Lapan, Ir. Yus Kadarusman Markis, Dipl. Ing., pengujian terbang ini tidak hanya untuk mengetahui posisi roket, tetapi juga dilakukan pengujian fungsi sistem separasi dan sustainer.

Selain muatan GPS, masing-masing roket juga membawa misi muatan lainnya. Untuk roket RX-200 membawa muatan untuk tracking radar, yakni alat untuk mengetahui posisi roket secara penghitungan jarak dengan menggunakan frekuensi radio yang dipasang dari tiga titik ground station. Sedang, roket RWX-200 dan RWX-100, memasang fungsi sistem separasi dan sustainer sebagai roket kedua.

Ir. Hermayudi Irwanto, M. Eng. menambahkan, roket RWX-200 merupakan pengembangan lebih lanjut dari RWX-100. Dan semua ini berjalan sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah direncanakan. Sedangkan untuk roket RTX-100, dilakukan pengujian sistem folded wing. Maksud pengujian ini untuk mengetahui pengontrolan sistem terbukanya sayap mulai dari keadaan tertutup dan kestabilan sayap saat setelah terbuka.

Selanjutnya, untuk roket RKX-200, ia menjelaskan, tujuan pengujiannya ditekankan pada pendeteksian sistem manuver roket, mulai dari roll (guling), pitch (anggukan), dan yaw (gelengan) dari pergerakan roket saat meluncur.

Dari semua pengujian terbang roket-roket eksperimen Lapan kali ini, Yus Kadarusman menegaskan, semua data yang diperoleh berjalan dengan baik. “Tentunya, ini masih tetap harus dikembangkan lebih lanjut agar mendapatkan hasil yang lebih optimal,” tegasnya.

Friday, July 9, 2010

Demam riset teknologi antariksa di Indonesia

Perlunya riset sebagai peningkatan disiplin ilmu dan guna memenuhi tugas belajar mahasiswa, mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan lembaga-lembaga penelitian milik negara.

Lembaga penelitian, dalam hal ini Lapan selalu terbuka untuk berbagi pengetahuan di bidang kedirgantaraan kepada mahasiswa, baik kunjungan ilmiah maupun kerjasama riset. Demikian diuraikan Ka. Bid. Teknologi Ruas Bumi Dirgantara Lapan, Chusnul Tri Judianto, ST. saat menyambut kunjungan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) di Lapan Rumpin, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/7).

Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Elektronika dan Instrumentasi (HMEI) Fakultas MIPA melakukan kunjungan ilmiah ke fasilitas-fasilitas penelitian yang ada di Lapan Rumpin. Kunjungan berawal ke laboratorium Supersonik dan Subsonik, Stasiun Bumi, dan berakhir di Hanggar Bidang Kendali Roket.

Sebanyak 98 mahasiswa dan dua orang dosen pendamping mendapat informasi secara umum penelitian yang dilakukan Lapan, yakni penelitian dan pengembangan teknologi roket, satelit, aplikasi penginderaan jauh, sains antariksa, atmosfer dan iklim, juga teknologi spin-off.

Peneliti aerodinamika Lapan, Lidya Kristina Panjaitan, ST., Sayr Bahri, ST, dan Heru Budihartono, SH menjelaskan fungsi dan manfaat data uji validasi terowongan angin supersonik dan subsonik. Saat melakukan pengujian model aeronautika di laboratorium supersonik, dihasilkan data dengan kecepatan 3,08 mach. Laboratorium supersonik merupakan fasilitas pengujian model wahana terbang yang berkecepatan lebih dari 1 mach. Fasilitas ini dapat melakukan pengamatan secara visual terhadap gelombang kejut (shockwave) dengan menggunakan schlieren apparatus.

Selain itu, laboratorium supersonik berfungsi untuk mengukur karakteristik data-data aerodinamika dari model uji untuk keperluan observasi dan optimasi pada perancangan wahana terbang berkecepatan tinggi seperti pesawat terbang dan roket.

Lain halnya dengan laboratorium subsonik, fasilitas ini untuk pengujian model berkecepatan kurang dari 0,14 mach. Selain pengujian model aeronautik, laboratorium ini dapat dimanfaatkan untuk pengujian model non aeronautik seperti kendaraan bermotor, jembatan, menara, turbin angin, kapal laut, dan lain-lain.

Di stasiun bumi, Chusnul Tri Judianto, ST. dan peneliti Lapan, Sony Dwi Harsono, ST mendemokan hasil-hasil pantauan permukaan bumi dari satelit Lapan-TUBSat. Satelit hasil karya anak bangsa ini mampu memantau objek secara langsung dengan jernih, terutama daerah gurun. Menurut chusnul, satelit mikro ini banyak diminati negara-negara maju guna dikembangkan lebih lanjut penelitiannya. Ia memperkirakan perkembangan teknologi satelit mikro ini akan terus maju sampai lima tahun ke depan.

Rencananya, pada 2011, Lapan akan meluncurkan dua satelit mikro lainnya sekaligus, yakni satelit Lapan-A2 dan Lapan-A3. kedua satelit ini akan ditempatkan di orbit ekuatorial dengan ketinggian 630 km di atas permukaan laut. Dengan adanya kedua satelit ini, diharapkan pantauan wilayah Indonesia akan lebih sering dan lebih luas. Tak hanya satelit mikro, Sony menambahkan penjelasan mengenai fungsi dan kegunaan dari beberapa jenis-jenis satelit lainnya.

Sedangkan, di Hanggar Bidang Kendali Roket, plt. Kabid Kendali, Herma Yudhi Irwanto, M. Eng. menjelaskan beberapa riset teknologi peroketan di Lapan. Di antaranya, riset untuk pengujian dan pengembangan telemetri dan pengembangan muatan (payload) roket baik balistik maupun kendali. Juga riset desain roket mulai dari moncong roket (nose), bodi hingga sirip roket. Riset ini untuk mendapatkan keakuratan dan kestabilan roket. Ia juga menerangkan beberapa jenis roket eksperimen yang telah Lapan lakukan. Termasuk rencana Lapan, untuk meluncurkan satelit sendiri dengan roket peluncur buatan Lapan pada 2014 nanti.

Tuesday, June 29, 2010

STMIK Potensi Utama, Medan, Juara Desain Terbaik Kompetisi Roket Indonesia 2010

Tim dari PENS-ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya meraih juara pertama dan menyingkirkan 39 tim lainnya dalam Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 yang digelar di Pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta.

PENS-ITS lolos sebagai yang terbaik dalam penilaian peluncuran roket yang digelar Minggu (27/6) setelah sebelumnya melalui beberapa tahapan seleksi, kata Kabag Humas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Elly Kuntjahyowati di Jakarta, Selasa.

Meraih juara dua dalam kompetisi yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional dan LAPAN itu adalah tim dari Universitas Pelita Harapan Jakarta.

Sementara tim Universitas Komputer Indonesia Bandung meraih juara ketiga, namun Elly Kuntjahyowati tidak merinci perolehan poin dari masing-masing peraih juara tersebut.

Tahapan dalam kompetisi meliputi dari seleksi proposal, workshop pengenalan teknologi peroketan, peluncuran dan uji terbang muatan roket, kemudian uji fungsional, dan terakhir penilaian peluncuran roket.

Berikut tim-tim yang menjuarai Korindo 2010 menurut keterangan yang dilansir oleh LAPAN melalui Kabag Humas lembaga itu Elly Kuntjahyowati:

* Juara I: PENS-ITS Surabaya
* Juara II: Universitas Pelita Harapan
* Juara III: Universitas Komputer Indonesia Bandung

* Juara Harapan I: Poltek TEDC Bandung
* Juara Harapan II: Universitas Negeri Semarang
* Juara Harapan III: Universitas Tarumanegara

* Juara Faforit: Universitas Indonesia
* Juara Kreativitas Terbaik: Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta
* Juara Desain Terbaik: STMIK Potensi Utama, Medan

Monday, June 28, 2010

Lapan Targetkan Mampu Orbitkan Satelit Sendiri pada tahun 2010

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menargetkan pada 2010 sudah mampu mengorbitkan satelit sendiri, kata Kepala Pusat Teknologi Terapan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr Rika Andiarti di sela penyelenggaraan Kompetisi Roket Indonesia (Korindo) 2010 di Pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta, Sabtu.

"Saat ini kami sedang mempersiapkan dengan matang rencana peluncuran roket pengorbit satelit. Saat ini mungkin baru akan meluncurkan satelit "Nano" dengan berat di bawah 10 kilogram," katanya.

Menurut Rika Andiarti , satelit "nano" ini dapat difungsikan untuk pemantauan suhu udara maupun kelembabab udara dan -data kecil atau sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan satelit.

"Ke depan kami targetkan mampu mengorbitkan satelit berukuran besar seperti yang digunakan untuk keperluan telekomunikasi dan lainnya," katanya.

Ia mengatakan, pihaknya saat ini sedang melakukan berbagai persiapan uji coba peluncuran roket pengorbit satelit.

"Lima tahun ke depan kami harus sudah mampu memproduksi roket peluncur satelit berukuran besar, sehingga Indonesia tidak lagi meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit," kata Rika .

Jamin keamanan

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof Dr Djamasri menambahkan, dengan mengorbitkan sendiri atelit maka keamanan negara akan lebih terjamin.

"Saat ini Indonesia masih meminta bantuan negara lain untuk mengorbitkan satelit, dan ini sangat rawan karena muatan roket dan satelit bisa disusupi kepentingan negara pengorbit satelit," katanya.

Profesor Djamasri mengatakan, teknologi kedirgantaraan khusunya tentang roket sangat bermanfaat dan bisa untuk berbagai kepentingan seperti mitgasi bencana. Teknologi kedirgantaraan juga sangat mendukung untuk kepentingan pertahanan Indonesia .

"Jika dari Pantai Pandansimo, Kabupaten Bantul kita mampu membuat roket dengan daya luncur antara 3.000 hingga 5.000 kilometer maka pertahanan akan semakin kokoh dan negara lain tidak akan seenaknya," katanya.

Friday, June 18, 2010

Pengembangan KF-X Indonesia-Korea

Adapun beberapa perhatian yang menjadi agenda dalam pertemuan Logistic Meeting XVII mencakup pembahasan draft Memorandum of Understanding MoU terkait beberapa kerjasama bidang industri pertahanan. Salah satunya adalah, draft MoU kerjasama pengembangan produksi pesawat Fighter KF-X, Draft MoU Mutual Logistic Support dan draft MoU Jaminan Kualitas Asuransi dari pada sistem pengadaan barang dan jasa.

Disamping pembahasan draft MoU, Forum Joint Committee and Logistic Meeting yang Ke – XVII juga membahas rencana kerjasama terkait sistem pengadaan melalui alih teknologi atau Transfer Of Technology (ToT), dan maintenance beberapa peralatan sistem senjata seperti Ranpur Amphibi, Panser Kanon dan Kapal Selam. Kerjasama ToT ini juga mencakup sistem alat komunikasi (Radio System Project) antara PT. LEN Indonesia dengan LIG Net 1.

Pada kesempatan pertemuan Joint Committee and Logistic Meeting yang Ke – XVII tahun ini, Delegasi Kementerian Pertahanan Korea Selatan diketuai oleh Direktur Jenderal Biro Promosi Industri Pertahanan, Program Akuisisi Pertahanan Administrasi (Director General For Defense industry Promotion of Defense Acquisition Program Administration / DAPA ) Dr. CHOI Chang-gon. Sedangkan delegasi Kementerian Pertahanan RI di ketuai oleh Sekjen Kemhan, Marsdya TNI Eris Herryanto, M.A.

Turut hadir dalam Joint Committee and Logistic Meeting yang Ke – XVII RI – Korsel, beberapa perwakilan dari industri pertahanan strategis dari kedua negara, diantaranya PT, Pindad, PT. Dirgantara Indonesia, PT. LEN, Doosan DST, LIG Next 1, dan Daewoo.

Sunday, June 13, 2010

Teknologi satelit Indonesia ternyata sudah canggih

Bagi Indonesia, pemanfaatan teknologi satelit (antariksa) sangat penting untuk pembangunan. ini dikarenakan posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dan merupakan negara kepulauan. Demikian diungkapkan Kepala Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara Lapan, Drs.Toto Marnanto Kadri saat menerima kunjungan tim satelit Indosat di Lapan Rancabungur, Bogor, Kamis (3/6).

Lanjutnya, saat ini, perkembangan teknologi satelit semakin maju. Hal tersebut ditandai dengan perubahan desain satelit yang sebelumnya berukuran besar menjadi berukuran kecil, namun dari sisi teknologi tidak kalah canggih. Satelit ini biasa dikenal dengan sebutan satelit mikro.

”Pengembangan satelit mikro lebih efisien. Biaya lebih murah dan peluncurannya bisa dilakukan dengan cara dibonceng (piggy-back),” ungkapnya kepada delapan orang dari tim Indosat. Kunjungan ini pun dihadiri Kabid Teknologi Mekatronika Dirgantara, Robertus Heru Triharjanto, M.Sc., Kabid Teknologi Muatan Dirgantara, Drs. Abdul Rachman, MT., Kabid Teknologi Ruas Bumi Dirgantara, Chusnul Tri Judianto, ST., dan para peneliti Lapan.

Sejak akhir tahun 90-an, banyak negara yang mengembangkan satelit mikro. Jerman merupakan salah satu negara maju yang bekerjasama dengan Lapan dalam pengembangan satelit mikro. Kerjasama tersebut merupakan transfer teknologi untuk pengembangan kemampuan sumber daya manusia di bidang teknologi satelit.

Setelah sukses meluncurkan satelit Lapan-TubSat pada tahun 2007 lalu, sekarang Lapan sedang mengembangkan satelit kembar yakni Saletit Lapan-A2 dan Satelit Lapan-A3. Rencananya, satelit ini akan diluncurkan pada tahun 2011. Untuk pertama kalinya, Lapan membuat dan merakit sendiri satelit di dalam negeri. Satelit kembar ini akan membawa misi untuk pemantauan bencana alam, tata ruang, sumber daya alam, pengamatan bumi, dan sebagainya.

Selain itu, Lapan juga telah melakukan penandatanganan kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam hal pembuatan satelit untuk ketahanan pangan yang rencananya akan diluncurkan pada tahun 2014 nanti.

Berbagai lembaga baik swasta, pemerintah, maupun lembaga swadaya masyarakat telah melakukan kerjasama dalam pemanfaatan teknologi satelit dengan Lapan.

Dalam kunjungannya, tim satelit Indosat juga melakukan peninjauan ke laboratorium pembuatan satelit. Mereka menyampaikan kesan bahwa kemampuan Lapan dalam pengembangan teknologi satelit sudah maju. Dan mereka berharap, pada kesempatan lain, Lapan bersama Indosat dapat selalu berinteraksi secara berkesinambungan.

Thursday, March 4, 2010

Kerjasama antara PT DI dan Lapan bisa hasilkan pesawat wisata antariksa

Indonesia mempunyai kemampuan dalam rancang bangun pesawat atau bodi pesawat. Di lain pihak Indonesia juga mempunyai kemampuan dalam memproduksi roket yang menjadi cikal bakal "Satellite Launch Vehicle".

Gabungan keduanya antara PT DI dan Lapan akan menghasilkan sinergi dalam pembuatan pesawat wisata antariksa seperti yang dikehendaki "Virgin Galactic" dan beberapa konsorsium antariksa Malaysia.

Dengan mengikuti sistem marketing "Virgin" PT Di dan Lapan bisa saja mengeluarkan blue print pesawat tersebut yang dapat mengorbit di orbit rendah sehingga memacu peminat dan wisatawan untuk berbondong-bondong mendukung usaha ini dengan pemberian fee pemula yang kemudian dijadikan dana awal pembentukan dan pembangunannya.

Saturday, February 6, 2010

LAPAN Siap Gelar Simposium Asia-Pasifik GEOSS

Indonesia kembali mendapat kepercayaan menggelar pertemuan internasional. Kali ini Lembaga Penerbangan dan Antariksa Indonesia (LAPAN) dipercaya menjadi tuan rumah Simposium Asia-Pasifik Group on Earth Observation Sistem of Systems (GEOSS) ke-4.

Berdasarkan rilis yang diterima detikcom dari LAPAN, Jumat (5/2/2010), isu sentral yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut terkait mengenai perubahan iklim sebagai masalah global. Sebagai catatan, negara-negara maju sedang bekerja sama mengurangi dampak tersebut.

Simposium ini akan dihadiri 26 negara Asia-Pasifik. Simposium dilaksanakan pada 10-12 Maret 2010 di Sanur Paradise Plaza Hotel and Suit, Bali. Rencananya, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata dan Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun akan hadir.

GEOSS bertujuan untuk pertukaran informasi dan pemahaman di antara para negara-negara Asia-Pasifik dalam menangani perubahan iklim. Hasil dari pertemuan tersebut nantinya akan menjadi rekomendasi untuk Group on Earth Observation System (GEO) Ministerial Summit di Beijing, Cina, pada November mendatang.

Ada empat topik utama yang akan menjadi fokus dalam simposium ini. Topik tersebut mengenai pertaman, kapasitas pemantauan dan variabilitas iklim Asia-Pasifik, kedua, manajemen sumber daya air dan hidrometeorologi terkait dengan bencana alam, ketiga, pemantauan karbon hutan, dan terakhir jaringan observasi biodiversity di Asia-Pasifik.

Friday, January 22, 2010

Telkom Libatkan LAPAN Kembangkan Satelit Telkom-3

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menjalin kerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di bidang pengembangan dan pemanfaatan teknologi satelit di tanah air.

"Kerjasama antara lain dengan menyertakan personil Lapan pada pabrik satelit Telkom-3 di Rusia," kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, usai penandatangan kerjasama dengan Telkom-LAPAN dengan Kepala LAPAN Adi Sadewo Salatun, di Gedung Telkom, Jakarta, Jumat (22/1).

Penandatangan nota kesepahaman juga disaksikan Menteri BUMN Mustafa Abubakar dan Menristek Suharna Surapranata.

Menurut Rinaldi, ruang lingkup kerjasama mencakup pemanfaatan data citra satelit yang disediakan LAPAN untuk perencanaan, operasional dan pemeliharaan, pemasaran.

Sedangkan personil Telkom ikut dalam program pemanfaatan telemetry tracking and command (TT&C) milik LAPAN untuk operasi pengendalian Satelit Telkom-1, Telkom-2 dan Telkom-3.

Telkom bersama dengan perusahaan satelit Rusia, Retshesnev, sejak 2008 sedang membangun satelit Telkom-3 dengan investasi 200 juta dolar AS.

Satelit yang memuat 48 transponder tersebut akan diluncurkan pada tahun 2011.

Menurut Rinaldi, dua tenaga ahli LAPAN, dan 5 orang dari Telkom itu akan bertolak pada 30 Junuari 2010 ke Zhekesnogosrk, Krasnoyarsky, Rusia, untuk jangka waktu selama 18 bulan.

Keputusan Telkom mengikutsertakan LAPAN dan program internship Satelit Telkom-3, selain merupakan kontribusi Telkom dalam meningkatkan kemampuan nasional khususnya di bidang penguasaan teknologi satelit dan luar angkasa, sekaligus memberikan benefit.

Sementara itu Menteri BUMN Mustafa Abubakar menambahkan, kerjasama Telkom dan LAPAN merupakan langkah BUMN telekomunikasi menghadapi persaingan di era perdagangan bebas.

Antariksa

Lokal

Astronomi