Showing posts with label satellite. Show all posts
Showing posts with label satellite. Show all posts

Wednesday, November 30, 2016

Sinyal Telekomunikasi dari dan ke Planet Mars Semakin Kuat Berkat TGO



SPACE TOURISM INDONESIA -- Orbiter atau pesawat pengorbit baru milik European Space Agency (ESA) menguji instrumen dan memperlihatkan foto Mars terbaru. Disebut Trace Gas Orbiter (TGO), alat pemantau ini tiba di Mars pada 19 Oktober 2016. Dilansir Phys, Selasa (29/11/2016), TGO mengorbit secara elips di atas permukaan Mars.

Ketinggian orbit TGO sekira 230-310 kilometer hingga 98 ribu kilometer di atas permukaan planet merah setiap 4,2 hari, orbiter ini juga dapat memantulkan sinyal telekomunikasi robot-robot NASA yang sudah terlebih dahulu berada di Mars. (baca)

TGO sempat menguji empat instrumen sains pada 20-28 November 2016. Data dari orbiter tersebut kini dirilis untuk menunjukan jarak observasi yang diharapkan. Tujuan utama TGO ialah untuk mengumpulkan informasi secara rinci mengenai gas langka dalam atmosfer planet, termasuk metana, uap air, nitrogen dioksida dan acetylene, dilaporkan okezone.com.

Metana juga diproduksi di Bumi, yang muncul terutama oleh aktivitas biologis dan tingkat yang lebih kecil oleh proses geologis, seperti reaksi hidrotermal.


Monday, April 18, 2011

Satelit Buatan Rancabungur

Matahari belum menampakkan diri di Bubulak, pinggiran Bogor. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.30. Tapi Wahyudi Hasbi sudah buru-buru meninggalkan rumahnya dengan mobil dinas Avanza. Setelah bertemu dengan empat rekannya, ia tancap gas melewati jalan tol Jagorawi menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma di Jakarta.

Wahyudi bukan buru-buru hendak pulang kampung menggunakan pesawat Cessna sewaan yang sudah menunggu di sana. Tapi ia dan empat rekannya-termasuk dua orang Jerman ahli kamera satelit-ingin melakukan uji coba kamera yang akan dipasang di satelit Lapan A3 (Lapan-Orari). "Kami melakukan dua kali," katanya menuturkan pengujian yang ia lakukan beberapa waktu silam.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sedang membuat dua satelit yang akan diluncurkan bersamaan sekitar setengah tahun lagi. Keduanya adalah satelit Lapan A3, yang dikenal juga sebagai Lapan-Orari, serta Lapan A2. Kedua satelit ini bakal menjadi satelit pertama yang dirancang dan dirakit di dalam negeri.

Uji coba dan pemasangan modul untuk dua satelit itu terus dijalankan, termasuk pekan lalu di kawasan Ancol, Jakarta. "Kami menguji perangkat AIS," kata chief engineer untuk program La-pan A3 itu. AIS atau Sistem Identifikasi Otomatis Maritim adalah peranti yang diwajibkan Organisasi Maritim Internasional (IMO) bagi kapal berbobot di atas 300 ton.

Pemancar relai AIS biasanya di darat dengan jangkauan hanya 50 mil laut (92 kilometer). Lapan berniat memasang relai AIS di satelitnya sehingga bisa dibaca dengan jangkauan lebih luas. Di Ancol, mereka merekam data kapal yang mondar-mandir di sekitar Pela-buhan Tanjung Priok.

Proyek pembuatan satelit kembar itu merupakan lanjutan dari satelit pertama buatan Indonesia yang dirakit melalui kerja sama dengan Technical University of Berlin (TUB), Jerman, yakni Lapan-TUBSat. Lapan-TUBSat bekerja sangat baik, bahkan melebihi harapan, sampai saat ini.

Saat pembuatan Lapan-TUBSat di Jerman, para insinyur Lapan serius mempelajari teknik dan seluk-beluknya. "Kontraknya memang termasuk transfer teknologi," kata Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Dirgantara La-pan Chusnul Tri Judianto.

Keberhasilan merakit Lapan-TUBSat membuat para ilmuwan itu yakin bisa membuat sendiri. Mereka pun menyusun program membuat satelit Lapan A2 dan Lapan A3, yang merupakan turunan Lapan-TUBSat-satelit yang dalam pendaftaran resmi di Uni Telekomunikasi Dunia disebut satelit Lapan A1.

Meski turunan, satelit kembar yang dirancang dan dirakit di Pusat Teknologi Elektronik Dirgantara Lapan di Rancabungur, pinggiran Bogor, itu berbeda dengan Lapan-TUBSat. Perbedaan pertama adalah garis lintasannya. Lapan-TUBSat membuat garis orbit dari utara ke selatan alias kutub ke kutub, sedangkan A2 dan A3 mengikuti garis khatulistiwa.

Dengan lintasan dari kutub ke kutub, hanya empat kali sehari satelit lewat di atas langit Indonesia. Dengan lintasan melintang mengikuti khatulistiwa, satelit A2 dan A3 bakal setidaknya 14 kali sehari lewat Indonesia sehingga bisa bekerja lebih banyak menghasilkan data. Selain beda lintasan, satelit kembar ini tidak berbeda jauh dengan La-pan-TUBSat. "Kita tidak mau bereksperimen terlalu jauh," kata Chusnul.

Lapan A2 dan A3 hampir mirip. Hanya, A2 menggunakan kamera video sebagai alat utama, sedangkan A3 menggunakan kamera foto yang akan memotret bumi. Satelit A3 ini juga dimaksudkan sebagai alat bantuan bencana sehingga menjadi alat relai radio amatir Orari. Pertimbangannya sangat sederhana. "Saat bencana di tempat terpencil, biasanya Orari itu yang paling cepat masuk," kata Chusnul.

Lapan sudah menjadwalkan peluncuran pada tahun ini dan, seperti satelit Lapan-TUBSat, akan menumpang roket India. Peluncuran dari India menguntungkan karena mendapat diskon harga. Biaya numpang satelit itu mestinya sekitar Rp 1 miliar, tapi kemudian didiskon separuhnya. Harga ini didapat karena India menumpang Indonesia mengendalikan satelit mereka dari Biak.

Sebelum dirakit, mereka ingin memastikan semua modul berjalan baik. Mereka tidak ingin mengalami nasib seperti Malaysia dan satelit buatannya, RazakSat-tidak jelas hasilnya setelah diluncurkan 2009. RazakSat semestinya sudah mengirim gambar tahun lalu, tapi sampai sekarang tidak ada beritanya.
Cakupan Satelit



Lintasan Lapan A2 dan Lapan A3 (Lapan Orari)
Dua satelit ini hanya mencakup wilayah khatulistiwa dan sekitarnya. Sehari setidaknya 14 kali melintasi wilayah Indonesia. Mereka akan kembali ke lintasan yang persis sama setiap lima hari.

Lintasan Lapan-TUBSat
Lintasannya utara-selatan sehingga lebih sering berada di luar wilayah Indonesia. Sehari hanya empat kali ia melintasi Indonesia.

2014, Lapan Orbitkan Empat Satelit
Salah satu sasaran utama kinerja Lapan pada 2011 ialah peluncuran satelit Twinsat (Lapan-A2 dan Lapan-Orari) untuk mitigasi bencana. Pengembangan satelit terus berlanjut, hingga pada 2014, Lapan akan memiliki empat satelit buatan sendiri meskipun dalam skala kecil. Selama ini, 10 satelit milik Indonesia masih buatan luar negeri.

Hal tersebut dijelaskan oleh Kepala Lapan Dr. Adi Sadewo Salatun, M. Sc. saat rapat kerja Menteri Riset dan Teknologi serta jajaran Kepala Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK) dengan Komisi VII DPR RI di Ruang Rapat Komisi VII, Gedung Nusantara Lantai I, Senin (17/1).

Selain pengembangan satelit, Lapan juga bersiap melakukan studi kelayakan sarana dan prasarana stasiun peluncuran di Pulau Enggano, menguji statik roket RX-550, serta membahas RUU Keantariksaan dengan DPR. Roket RX-550 saat ini sedang dalam proses pengujian bekerjasama dengan BATAN dan dijadwalkan selesai paling lambat Maret 2011. “Jika semuanya telah siap, maka peluncuran RX-550 merupakan peluncuran roket paling besar sampai saat ini,” ujar Adi.

Dalam rapat tersebut, Kepala Lapan menyampaikan realisasi program utama Lapan 2010. Untuk bidang roket, telah dilakukan integrasi dan pengujian subsistem satelit mikro Lapan-A2 dan Lapan-Orari. Di bidang roket, Lapan mengembangan kemampuan roket nasional untuk keperluan riset ilmiah.

Kemudian, di bidang penginderaan jauh (inderaja), lapan mengembangkan model pemanfaatan data satelit inderaja untuk pengembangan wilayah, pemantauan dan inventarisasi sumber daya alam dan lingkungan, serta operasi pelayanan informasi mitigasi bencana (Simba).

Sementara itu di bidang sains antariksa dan atmosfer, Lapan menyuplai model atau data akurat tentang cuaca antariksa, prosedur standar peringatan dini dan mitigasi cuaca antariksa, serta layanan informasi pemanfaatan sains atmosfer. Selain itu, Lapan mendukung penguatan kelembagaan iptek dan regulasi kebijakan pengembangan kedirgantaraan nasional (harmonisasi RUU Keantariksaan).

Sunday, March 27, 2011

Telkom-LAPAN to launch new satellite

Telkom, Indonesia's telecommunication company, together with LAPAN, Indonesia's space agency to launch new satellite next year. The satellite called Telkom-3 cost 200 million dollar US is now on its assembly in ISS-Reshetnev, Rusia.

The satellite, beside its commercial use could also be used to enhance Indonesia's ICT infrastructure as well as to boost defense and military system.

Monday, January 31, 2011

Iran to send astronaut to space by 2021

President Mahmoud Ahmadinejad on Sunday inaugurated the largest laboratory center for testing space structures and systems. The center is considered the largest of its kind in the Middle East.

The laboratory was inaugurated ahead of the Ten-Day Dawn celebrations (February 1-10) which marks the anniversary of the victory of the Islamic Revolution in 1979.







Speaking at the inauguration ceremony, Ahmadinejad said the country's achievements in space technology have modified the world's view of Iranian scientists' capabilities.

The world is "impressed" by Iran's space achievements, he stated.

Sunday, January 30, 2011

Iran inaugurates space test laboratories

Iran has launched a number of laboratories for testing “space structures and systems” in line with its progressing space program, the Iranian Defense Ministry says.

The labs have been inaugurated by Iranian President Mahmoud Ahmadinejad ahead of the Ten Days of Dawn (February 1-10) celebrations marking the victory of the 1979 Islamic Revolution.

Planning and setting up the laboratories is in continuation of firm steps taken by Iranian experts in putting domestically-built satellites into orbit, said Iran's Defense Minister Brigadier General Ahmad Vahidi during the inauguration ceremony of the labratories, IRIB reported.

Vahidi said the Defense Ministry constructed ten labs to “reinforce infrastructures of Iran's space industry” and help improve the abilities of human resources. He also noted that Iran is expected to unveil other space projects in the near future.

Iran launched its first domestically-produced satellite, Omid, into space in 2009.

Omid (meaning 'Hope' in Persian) was put into orbit by the Iranian-produced satellite carrier Safir 2 which is an upgraded model of carrier Safir 1 which was launched in 2007.

Equipped with two frequency bands and eight antennas, Omid transmitted information to and from earth while orbiting the planet 15 times per day.

The lightweight telecommunications satellite was equipped with remote sensing, satellite telemetry and geographic information system technology as well as remote and ground station data processing.

Omid is a research satellite that has been designed for gathering information and testing equipment. After orbiting the earth, Omid returned to earth with data that helped Iranian experts to send an operational satellite into space.

The Islamic Republic also unveiled its first major space center in 2008 with launching the first Iranian rocket, Explorer-1, into space.

Iran is one of the 24 founding members of the United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space, which was set up in 1959. To date, only eight countries have put domestically-made satellites into orbit.

Tuesday, January 18, 2011

4 tahun, Satelit Pertama RI Masih Mengorbit

Satelit pertama buatan Indonesia, Lapan-Tubsat hingga saat ini masih mengorbit. Pada 10 Januari 2011 lalu, satelit ini berulang tahun keempat.

Untuk diketahui, satelit ini diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Pusat Antariksa Satish Dhawan di India.

Ini di jauh di luar perkiraan. Sebab, dalam rancangan awal, satelit ini diperkirakan hanya akan berusia tidak lebih dari dua tahun. Keberhasilan ini merupakan suatu pembuktian bahwa engineer (perekayasa) Indonesia mampu membuat satelit yang andal.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Soewarto Hardhienata, satelit Lapan-Tubsat masih berfungsi dengan baik dan masih terus memberikan gambar dari ruang angkasa.

”Bahkan, jika tidak ada anomali, Lapan-Tubsat masih akan terus beroperasi hingga beberapa tahun lagi,” kata dia dalam rilis yang diterima VIVAnews, Selasa 18 Januari 2011.

Kata dia, ini adalah hal yang luar baisa bagi sebuah satelit mikro. "Karena banyak satelit semacam ini hanya berusia dua tahun."

Dijelaskan dia, Lapan-Tubsat merupakan satelit mikro atau satelit berukuran kecil dengan bobot 57 kg. Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub.

Satelit tersebut melewati wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari. Selama empat tahun, Lapan-Tubsat telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana misalnya gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan perkembangan jembatan Suramadu.

Bahkan, menurut Kepala Bidang Teknologi Ruas Bumi Dirgantara Lapan, Chusnul Tri Judianto, Lapan dapat mengambil gambar letusan Gunung Merapi pada 2010. Saat itu, satelit-satelit penginderaan jauh milik negara-negara maju, tidak dapat mengambil gambar gunung itu karena seluruh wilayah udara di Merapi tertutup awan akibat erupsi.

”Inilah kelebihan Lapan-Tubsat. Satelit ini dapat digerakkan, sehingga mampu ’melirik’ dari sisi samping wilayah yang ingin dilihat. Pada satu hari itu, hanya Lapan-Tubsat yang berhasil melihat Merapi dari 650 kilometer di atas permukaan bumi,” ujar Chusnul.

Ke depan, Lapan akan terus melakukan pengembangan satelit. Dijelaskan Soewarto, kini Lapan sedang membangun dua satelit yaitu Lapan-A2 dan Lapan-Orari.

Kedua satelit yang disebut Twin- Sat atau Satelit Kembar berorbit ekuatorial, sehingga akan melewati Indonesia lebih banyak dari Lapan-Tubsat, yaitu 14 kali per hari. Kedua satelit akan mengemban misi untuk mitigasi bencana.

Rencananya Twin Sat akan diluncurkan pada 2011 ini dengan menggunakan roket India. Lapan-A2 akan membawa muatan AIS (Automatic Identification System) untuk mengindentifikasi kapal laut di perairan Indonesia dan kamera video dengan cakupan tiga kali lebih lebar dari Lapan-Tubsat.

Sementara, Lapan-Orari akan membawa muatan voice repeater dan APRS Repeater untuk komunikasi anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari) saat bencana. Satelit ini juga akan membawa ADI star (Attitute Determination Instrument). Instrumen ini akan mengeluarkan cahaya seperti bintang yang terlihat dari bumi dengan mata telanjang.

Saturday, July 10, 2010

Wooow: Anak Bangsa Mampu Bangun Satelit

Indonesia merupakan negara yang besar. Oleh karena itu, diperlukan pemanfaatan antariksa untuk telekomunikasi, penginderaan jauh, pendidikan, dan pemantauan bencana. Dengan demikian, Indonesia perlu berusaha untuk mencapai kemandirian bangsa di bidang ini.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara (Pustekelegan), Drs. Toto Marnanto Kadri, saat menjadi pembicara pada workshop Teknologi Survei Kebumian dan Pemetaan di Gedung BPPT 1, Jakarta.

Toto berpendapat, upaya mengembangkan satelit di Indonesia telah ditempuh Lapan melalui Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara. Lapan juga bekerja sama dengan Technical University of Berlin untuk mengembangkan satelit Lapan-Tubsat atau Lapan A1. Lapan-Tubsat telah diluncurkan pada 2007 di India. “Satelit ini merupakan satelit pertama buatan anak bangsa Indonesia dengan pengawasan dari universitas tersebut,” ujarnya.

Selain Lapan A1, di workshop tersebut, Toto juga memperkenalkan tiga satelit mikro yang sedang dibangun Lapan. Satelit tersebut yaitu Lapan A2, Lapan-Orari atau Lapan A3, dan LI-Sat.

Satelit Lapan A2 akan mengorbit secara ekuatorial ini. Nantinya, satelit ini dapat dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana, pemantauan sumber daya alam, dan pengamatan bulan. ”Satelit ini akan melewati Indonesia setiap 97 menit,” ia menjelaskan.

Lapan-Orari atau Lapan A3 merupakan satelit yang akan membawa muatan komunikasi radio Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari). Satelit ini bermisi sebagai media pendeteksi dan penanggulangan bencana. Lapan-Orari ditempatkan pada orbit yang sama dengan Lapan A2. Menurut Toto, rencananya kedua satelit tersebut akan diluncurkan bersama pada 2011 dengan menggunakan roket India.

Li-Sat merupakan kerja sama Lapan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Satelit yang rencananya diorbitkan pada 2014 ini, berfungsi untuk mendukung program ketahanan pangan nasional. Satelit tersebut akan diluncurkan pada orbit polar. ”Diharapkan, dengan satelit ini Indonesia akan memperoleh informasi tematik siklus tanaman padi,” Toto menjelaskan.

Workshop Teknologi Survei Kebumian dan Pemetaan diadakan oleh Masyarakat Penulis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Mapiptek), Bakosurtanal, Lapan, dan BPPT. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bakosurtanal, Dr. Asep Karsidi. Selain Toto, Ir. Bebas Purnawan, M. Sc. dari Bakosurtanal, Dr. Ir. Ridwan Djamaludin, M. Sc. dari BPPT, serta Beni Hermawan, M. Si. dari BPN turut mengisi acara tersebut.

Antariksa

Lokal

Astronomi